23 Ekor Penyu Dilepaskan ke Habitatnya

  • Whatsapp
Wakapolda Sulteng Brigjen Pol Drs. Nurwindiyanto memimpin pelepasan 23 ekor penyu di Perairan Teluk Palu, Selasa (10/12/2019). [Humas Polda]
Bagikan Artikel Ini
  • 136
    Shares

Palu, JurnalNews.id – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Sulawesi Tengah (Sulteng), melepasliarkan kembali ke habitatnya sebanyak 23 ekor penyu di Perairan Teluk Palu, Selasa (10/12/2019).

Puluhan Penyu yang dilepasliarkan tersebut merupakan hasil tangkapan dari seorang nelayan yang akan diperjualbelikan di Perairan Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) Provinsi Sulteng, yang diamankan Polairud Polda Sulteng, pada 3 Desember 2019 lalu.

Baca Juga:

Wakapolda Sulteng Brigjen Pol Drs. Nurwindiyanto, MM yang memimpin pelepasan puluhan penyu langka yang dilindungi itu mengatakan, pelepasan 23 ekor penyu ini merupakan bentuk keseriusan Polda Sulteng untuk melindungi satwa langka.

“Bila ini tidak dilepaskan kembali ke habitatnya, akan sangat mengencam kelestariannya. Penyu-penyu ini berhasil diamankan dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab berkat kesigapan Patroli Ditpolair Polda Sulteng,” ujarnya.

Advertisements

Penyu dengan ukuran cukup besar tersebut dilepaskan dengan cara diturunkan ke laut dari atas Kapal Ditpolairud Polda Sulteng dengan nomor lambung XIX-3001.

Advertisements

Brigjen Pol Drs. Nurwindiyanto, MM yang memimpin acara pelepasan 23 ekor penyu didampingi Dirpolairud Polda Sulteng Kombes Pol Indra Rathana, SIK, JPU Kejati Sulteng, Ahli BKSDA, Kepala BKIPM, DKP Sulteng, Personil Dit polair dan beberapa awak media.

Sementara itu, Kabidhumas Polda Sulteng melalui Kasubbid Penmas Kompol Sugeng Lestari mengatakan, meski 23 ekor penyu tersebut telah dilepaskan ke habitatnya, namun perkara dan berkas penyidikan terhadap pelaku masih berlangsung di Ditpolairud Polda Sulteng.

“Penyidikan perkaranya masih berlangsung di Ditpolairud,” kata Sugeng.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan penangkapan terhadap penyu atau satwa yang dilindungi lainnya, karena ada ancaman pidananya. [***]

Advertisements

Editor; Sutrisno

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News