590 Ribu Ton Sampah Setiap Tahun Masuk ke Laut Indonesia

Ilustrasi [Titrto]
Bagikan Artikel Ini
  • 25
    Shares

Jakarta, JurnalNews.id – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian di 18 kota utama Indonesia. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa sebanyak 270.000 hingga 590.000 ton sampah masuk ke laut Indonesia selama 2018.

“Teman-teman kami melakukan pengukuran ke lapangan. Dari jumlah tersebut pada umumnya merupakan sampah dengan jenis styrofoam,” ungkap Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, seusai rapat peluncuran baseline data nasional sampah laut di Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Baca Juga

Sampah-sampah tersebut, kata dia, masuk dari jalur sungai atau muara menuju laut lepas bukan akibat dari transportasi kapal. Menariknya, dari penelitian tersebut ditemukan bahwa styrofoam lebih dominan dari jenis sampah lain. Itu dikarenakan sampah plastik botol masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Jadi oleh pemulung, botol dan plastik diambil karena masih bisa didaur ulang sedangkan styrofoam tidak bisa,” katanya.

Handoko mengatakan, berdasarkan penelitian sampah tersebut, sebaiknya pemerintah dan lembaga terkait memprioritaskan larangan penggunaan styrofoam karena volumennya lebih tinggi dari jenis sampah lainnya.

Kendati demikian, masyarakat terus diimbau agar mengurangi atau tidak menggunakan sampah plastik sekali pakai terutama jenis styrofoam dalam aktivitas sehari-hari.

Kemudian, berdasarkan hasil riset tersebut, pada saat musim hujan volume sampah meningkat cukup drastis jika dibandingkan dengan musim kemarau. Hal itu disebabkan tumpukan sampah di selokan atau got meluap akibat tingginya volume air.

Pemerintah, kata dia, sedang mengupayakan 0,27 juta hingga 0,59 juta ton sampah yang masuk ke laut Indonesia selama kurun waktu 2018 bisa dikurangi hingga 70 persen.

Untuk mencapai target 70 persen tersebut, LIPI merekomendasikan agar masyarakat dan lembaga pemerintah maupun swasta untuk mengubah perilaku, terutama dalam menekan penggunaan sampah sekali pakai.

“Pertama, masyarakat jangan buang sampah sembarangan dulu karena itu merusak ekosistem,” tuturnya. [***]

Sumber; iNews

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News