Aksi Solidaritas untuk Warga Poso, LS-ADI: Copot Kapolda Sulteng

  • Whatsapp
LS-ADI menggelar aksi solidaritas untuk warga Poso yang tewas tertembak, di Palu, Kamis (4/6/2020). [Ist]
Bagikan Artikel Ini
  • 665
    Shares

 

Palu, JurnalNews.id – Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) menyoroti peristiwa penembakan terhadap warga sipil di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang diduga dilakukan oknum aparat kepolisian, pada Selasa (2/6/2020).

Baca Juga

Sebagai bentuk solidaritas terhadap korban kejahatan kemanusiaan yang terus berulang di Kabupaten Poso LS-ADI menggelar aksi di Palu, Kamis (4/6/2020).

Koordinator aksi Moh Renaldy dalam orasinya mendesak kasus penembakan tersebut diusut hingga tuntas.

“Untuk tercapainya keadilan, kami dari LS-ADI minta agar kasus penembakan terhadap warga Poso diusut tuntas,” seru Renaldy dalam orasinya.

Menurut Renaldy, peristiwa penembakan yang menewaskan warga sipil di Kabupaten Poso adalah kasus berulang hingga menimbulkan korban jiwa.

Advertisements

“Copot Kapolda Sulteng dari jabatannya,” tegas Renaldy.

Desakan pencopotan Kapolda Sulteng karena terjadinya peristiwa berulang terhadap warga sipil dan menimbulkan korban jiwa.

Renaldy menguraikan, pada April 2020 telah terjadi pembunuhan sadis terhadap warga sipil bernama Qidam Alfariski Mosance dengan luka tembak, luka tusukan dan sayatan pisau hingga tewas, yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian.

“Peristiwa itu belum luput dari ingatan kita, kejadian serupa kembali terjadi yakni kejahatan kemanusiaan penembakan yang dilakukan oknum aparat kepolisian hingga menghilangkan dua nyawa petani Dusun Sipatuo di pegunungan Kawende KM 9,” jelasnya.

Ia menyebutkan, dua korban tewas akibat penembakan tersebut bernama Sarifuddin dan Firman yang merupakan seorang petani tak berdosa.

“Peristiwa penembakan merupakan kejahatan kemanusiaan yang terus-menerus terjadi di Kabupaten Poso dan hingga saat ini keluarga korban belum mendapatkan keadilan,” tambah Renaldy.

Ia juga mengatakan, masyarakat menginginkan rasa aman saat beraktifitas, namun yang terjadi justeru aparat keamanan yaitu kepolisian tidak dapat memberikan rasa aman.

“Negara mengkampanyekan lawan teroris, namun kenyataannya alat negara yaitu kepolisian telah menjadi teroris terhadap warga masyarakat Poso saat ini,” ujarnya.

“Di tengah pandemi Covid-19 masyarakat disarankan untuk menerapkan New Normal, namun penembakan terhadap warga sipil di Kabupaten Poso membuat kehidupan masyarakat menjadi Abnormal,” tutupnya.

Editor: Sutrisno/*

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News