Andi Vridya “Sarinah” PDIP Sulteng Siap Bertarung di Pilkada Morowali Utara

  • Whatsapp
Andi Vridya Farida Jabir. [Ist]

Palu, JurnalNews.id – Panggung pemilihan kepala daerah (Pilkada) Morowali Utara (Morut) Tahun 2020 mendatang bakal riuh. Pasalnya, salah satu “Sarinah” sebutan kaum hawa bagi politisi PDI-P Sulawesi Tengah (Sulteng), yakni Andi Vridya Farida Jabir menyatakan bersedia maju sebagai bakal calon Wakil Bupati Morut.

Sebagai bentuk keseriusan dari Andi Vridya Farida ini, Kamis (5/9/2019) telah menyatakan mendaftarkan diri dengan mengambil formulir pendaftaran di partai yang selama ini membesarkan namanya.

Baca Juga

“Jika diberi amanah sebagai wakil bupati, maka pemberdayaan perempuan menjadi salah satu program prioritas yang akan saya perjuangkan,” kata Andi Vridya Farida Jabir kepada JurnalNews.id, di Palu, Kamis (5/9/2019).

Untuk memberdayakan kaum perempuan menurut Andi Vridya, sangat dibutuhkan komitmen guna mendorong kesetaraan.

” Perlu ada kebijakan yang sifatnya afirmatif dalam mendorong keterberdayaan perempuan,” kata Andi Vridya yang juga Wakil Bendahara DPD PDI-P Sulteng ini.

Andi Vridya juga bertekad akan memberikan pengabdian kepada masyarakat Morut, dengan memperjuangkan hak-hak rakyat yang belum terpenuhi. Politik itu adalah pengabdian, sehingga sebagai politisi, tidak ada alasan untuk istirahat mengabdi kepada masyarakat.

“Pilkada 2020 merupakan momentum bagi saya untuk berbuat banyak dan membantu masyarakat Morut,” tandasnya.

Sementara, Usman salah seorang warga Desa Ganda-ganda menegaskan bahwa mencuatnya wajah-wajah baru dalam kontestasi Pilkada Morut, membuat rakyat semakin banyak pilihan dalam memilih pemimpin.

“Nama Andi Vridya Farida adalah wajah baru di bursa kandidat Wakil Bupati Morut. Saya kira bagus dan demokrasi semakin semarak dengan banyaknya calon yang muncul,” kata Usman.

Usman juga meyakini jika ‘kosmos politik’ di daerahnya masih akan didominasi oleh kaum pria. Namun dengan munculnya nama Andi Fridya Farida diyakini akan membuka ruang dan pikiran bahwa kaum hawa untuk bisa mendapatkan hak dan eksistensi di ruang publik secara egaliter. [***]

Penulis: Agus Manggona

Pos terkait