BI Diprediksi Turunkan Suku Bunga untuk Pulihkan Ekonomi

  • Whatsapp
Bank Indonesia
Bagikan Artikel Ini
  • 64
    Shares

Jakarta, JurnalNews.id – Bank Indonesia (BI) diperkirakan menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin. Ini untuk mendukung pemulihan ekonomi.

“Ruang penurunan bunga acuan masih terbuka. Ini sebagai bagian stimulus moneter untuk mendukung pemulihan ekonomi,” ujar ekonom Bhima Yudistira yang dihubungi di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Baca Juga

Dia menuturkan faktor lain adalah kenaikan cadangan devisa pada Juni mengindikasikan BI bisa menjaga stabilitas rupiah tanpa menaikkan bunga acuan.

“Rupiah juga bisa terjaga dengan tidak menaikkan bunga acuan,” katanya yang dilansir SINDONews.

Advertisements

Senada yang sama juga dikatakan Ekonom Ryan Kiryanto yang mengatakan secara teoritis dan teknis, dengam realisasi inflasi hingga Juni masih rendah, BI punya ruang menurunkan BI rate 25 bps ke 4 persen.

“Tetapi saya prefer BI rate tetap ditahan di 4,25 persen karena RDG bulan lalu sudah turun. Jadi di RDG kali ini sebaiknya ditahan saja, apalagi kurs rupiah masih volatile,” katanya.

Bunga Kredit Bank Ngikut
Terpisah, ekonom Bank Permata Joshua Pardede memprediksi Bank Indonesia (BI) bakal memangkas suku bunga acuannya, alias BI 7-day reverse repo rate, sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4,0%.

Menurut Joshua, pemangkasan suku bunga acuan ini karena BI telah mempertimbangkan beberapa indikator makro ekonomi. Misalnya, inflasi hingga akhir tahun 2020 diperkirakan tetap stabil di bawah kisaran 3%, atau masih dalam target sasaran BI tahun ini di kisaran 3±1%.

“BI diperkirakan memangkas BI7RR sebesar 25 bps ke level 4,0%. Mengingat inflasi dari sisi permintaan yang cenderung rendah mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat menurun tajam,” kata Joshua, di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Advertisements

Kata dia, tekanan inflasi yang rendah tersebut terindikasi dari inflasi per Juni yang tercatat <2%. Data-data lainnya yang turut mendukung lemahnya konsumsi rumah tangga adalah penurunan tajam dari indeks kepercayaan konsumen, penjualan eceran, nilai tukar petani, dan penjualan otomotif yang mengindikasikan konsumsi masyarakat berpotensi mengalami kontraksi.

Lalu, perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek ini yang cenderung stabil ditunjukkan dengan volatilitas nilai tukar rupiah secara rata-rata menurun. Itu terindikasi dari one-month implied volatility yang menurun menjadi 11,3% sepanjang bulan Juli ini dari bulan Juni yang yang tercatat di kisaran 12-13%.

“Penurunan volatilitas rupiah tersebut sejalan dengan penurunan volatilitas di pasar keuangan global,” katanya.

Sedangkan faktor penurunan suku bunga ini melihat, defisit transaksi berjalan (CAD) pada kuartal II 2020 (2Q20) diperkirakan tetap rendah dan bahkan lebih rendah dibandingkan CAD pada kuartal I 2020 yang tercatat -1,4% terhadap PDB.

“Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut terindikasi dari surplus neraca perdagangan pada 2Q20 yang tercatat surplus USD2,91miliar, meningkat dari kuartal sebelumnya yang tercatat USD2,59miliar,” katanya.

Dia menambahkan, ekspektasi kembali menurunnya defisit transaksi berjalan pada 2Q20 mengindikasikan bahwa aktivitas investasi serta permintaan domestik yang lemah sehingga mendorong ekspektasi perlambatan ekonomi yang signifikan pada 2020.

Secara keseluruhan, penurunan suku bunga acuan BI bertujuan untuk memberikan stimulasi bagi perekonomian domestik, khususnya sisi permintaan perekonomian dan mendukung aktivitas produksi yang secara gradual mulai membaik. Terutama, dalam mendorong penurunan suku bunga perbankan sehingga dapat mengakselerasi momentum pemulihan ekonomi nasional.

“Suku bunga instrumen BI lainnya, yakni reverse repo SUN, dalam 1-2 minggu terakhir ini menunjukkan penurunan yang pada umumnya mengindikasikan penurunan suku bunga acuan BI,” tandasnya. [***]

Advertisements

 

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News