BMKG: Pekan Depan Suhu Panas Bisa Sampai 39 Derajat

Ilustrasi [Kompas]
Bagikan Artikel Ini
  • 101
    Shares

JurnalNews.id – Cuaca panas terik yang menyengat beberapa hari terakhir masih akan terus berlangsung di wilayah Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu panas dengan cuaca cerah tanpa awan akan berlangsung hingga pekan depan.

“Potensi suhu panas di siang hari masih harus diwaspadai hingga sepekan ke depan,” kata Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Miming Saepudin, dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Baca Juga

Hingga pekan depan suhu maksimum dapat mencapai 39 derajat Celcius. BMKG mencatat suhu tertinggi selama dua hari terakhir terjadi di Semarang yang juga mencapai 39 derajat Celcius.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Miming menjelaskan, suhu panas ini terjadi karena posisi matahari berada di titik kulminasi tertinggi, tidak ada awan yang menutupi, dan suhu kelembapan yang rendah. Akibatnya, cahaya matahari langsung menuju wilayah Indonesia sehingga cuaca menjadi panas. Masyarakat diimbau untuk banyak minum air putih dan mengurangi aktivitas di bawah matahari langsung.

“Minum air yang cukup jangan sampai dehidrasi, gunakan pakaian yang nyaman, kurangi aktivitas di bawah matahari atau kenakan pelindung,” kata Sesditjen P2P Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto.

Cuaca panas ini diprediksi tidak akan berlangsung lama karena akan berganti menjadi musim hujan. Saat ini, awan hujan mulai terbentuk dan diprediksi wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Kalimantan bagian selatan akan mulai memasuki musim hujan pada akhir November hingga awal Desember. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari dan Februari.

Beda dengan Gelombang Panas
Miming juga menyatakan bahwa suhu panas di Indonesia bukanlah gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa dan India. Dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak termakan hoaks yang banyak beredar.

“Suhu panas berbeda dengan gelombang panas,” tutur Miming.

Gelombang panas terjadi pada wilayah yang berada di lintang tinggi. Gelombang panas itu terjadi karena pengaruh atmosfer di kutub dan lintang menengah.

Menurut Miming, di Indonesia tak mungkin terjadi gelombang panas karena secara dinamika berbeda. Indonesia berada di ekuator sehingga kondisi cuaca dan fenomena berbeda.

Hoax Isu Gelombang Panas
Sebelumnya, BMKG menyebut isu mengenai Indonesia yang akan dilanda gelombang panas adalah hoaks. Isu ini beredar lewat pesan berantai yang beredar diberbagai platform media sosial dan WhatsApp.

Dalam pesan yang beredar itu disebutkan kalau Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lain saat ini sedang mengalami gelombang panas. BMKG melakukan klarifikasi bahwa Indonesia saat ini Indonesia dilanda suhu panas, bukan gelombang panas.

“Fenomena gelombang panas tidak terjadi di Indonesia,” jelas Deputi Bidang Meteorologi, R. Mulyono R. Prabowo.

Loading…

Menurut Mulyono, cuaca panas yang belakangan terasa di sejumlah kota di Indonesia bukanlah fenomena gelombang panas. Fenomena ini disebut suhu panas. Kedua fenomena ini berbeda. Perbedaan ini dijelaskan Mulyono karena pada gelombang panas terjadi merambat dari satu daerah ke daerah lainnya.

“Seperti gelobang, merambat misal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,” tuturnya.

Sementara fenomena suhu panas yang terjadi di Indonesia, menurutnya tidak memiliki pola rambatan itu. Cuaca panas terik yang terasa di Indonesia menurutnya hanya terjadi di titik-titik tertentu saja, sehingga fenomena ini tak bisa disebut gelombang panas.

“Suhu panas bisa terjadi dimana saja. (Misal) Sumatera di satu kota. Di saat yang sama Kalimantan muncul di 2-3 titik. Spot-spot gitu. Kalau gelombang, bergantian lokasi yang terkena suhunya, seperti merambat,” jelasnya.

Selain itu, biasanya gelombang panas terjadi pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di ekuaotor alias di lokasi dengan lintang rendah. Menurut Mulyono, sistem dinamika cuaca di daerah ekuator tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

Keuntungan lain yang membuat gelombang panas sulit terjadi di Indoensia adalah lingkungan geografis Indonesia yang 70 persen dikelilingi laut. Sehingga, ketika suhu tinggi melanda Indonesia, uap air dari perairan di sekitar menguap dan membentuk tutupan awan.

Lebih lanjut, suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya Gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Menurut Mulyono, batas cuaca bisa disebut ekstrim, seperti terjadi pada gelombang panas, ketika suhu berada di atas 35 derajat Celcius. Sementara suhu di beberapa kota di Indonesia tercatat sudah berada di atas suhu normal tersebut.

Berdasarkan data histori, suhu maksimun di Indonesia belum pernah mencapai 40 derajat Celsius. Pada Selasa (22/10/2019), data BMKG menyebut suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia mencapai 39,5 derajat celcius pada tahun 2015 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pada 20 Oktober, tercatat Makassar mencapai suhu maksimum tertinggi 38,8 derajat Celcius, diikuti Sangia Ni Bandera di Kolaka, Sulawesi Tenggara mencapai 37,8 derajat Celcius.

Suhu tersebut merupakan catatan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, dimana pada periode Oktober di tahun 2018 tercatat suhu maksimum mencapai 37 derajat Celcius.

BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla. [***]

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA