BMKG Ungkap Antisipasi Potensi Gempa Besar Kalimantan

  • Whatsapp
[Ilustrasi]
Bagikan Artikel Ini
  • 121
    Shares

JurnalNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan berbagai antisipasi yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghadapi potensi gempa besar di Kalimantan akibat pergeseran sesar Mangkulihat.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengimbau kepada masyarakat untuk wajib membangun-bangunan tahan gempa serta mengetahui bagaimana cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi.

Baca Juga

“Perlu kita ketahui bahwa gempa kuat dapat terjadi kapan saja dan belum bisa diprediksi secara akurat. Namun demikian, diharapkan masyarakat dapat melakukan upaya mitigasi bila suatu waktu terjadi gempa dan tsunami. Masyarakat perlu memahami cara selamat saat terjadi gempa, dengan cara segera mencari perlindungan diri,” kata Daryono dalam keterangan, Jumat (17/7/2020).

Di sisi lain, Daryono mengatakan agar pemerintah membuat tata ruang pantai berbasis risiko bencana tsunami yang diakibatkan gempa. Tak hanya itu, Daryono juga meminta agar dilakukan latihan evakuasi gempa bumi.

Advertisements

“Perlu ada drill latihan evakuasi supaya dapat berjalan saat terjadi betulan,” tutur Daryono.

Daryono mengatakan masyarakat harus  memahami konsep evakuasi mandiri dengan cara menjadikan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami.

“Gempa ini tidak perlu membuat masyarakat khawatir berlebihan, meskipun kita harus waspada dengan meningkatkan kesiapsiagaan baik para pemangku kepentingan bidang kebencanaan dan masyarakat,” ujar Daryono.

Sebelumnya, Daryono mengatakan Jepang sejak 1980-an  mewajibkan pengembang properti untuk membangun bangunan tahan gempa. Oleh karena itu, jumlah korban jiwa di Jepang akibat gempa bumi sangat minim.

Daryono mengatakan Jepang dan Selandia Baru merupakan negara selain Indonesia yang terbiasa dilanda gempa lebih dari 7 skala Richter.

“Ternyata Jepang sekitar 1980-an wajib hukumnya setiap bangunan tahan gempa. Kalau ada orang bangun, dicek didatangi, spesifikasi dilihat, kalau tidak memenuhi standar, tidak boleh bangun,” kata Daryono.

Advertisements

Sebagai perbandingan, Daryono mengatakan Indonesia pernah mengalami peristiwa gempa dengan perilaku dan kondisi geologi serupa dengan Jepang. Akan tetapi, jumlah korban Jiwa di Jepang jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia.

Kedua gempa serupa ini adalah Gempa Yogyakarta pada 2006 dan Gempa Suruga pada 2010. Kedua gempa sama-sama dibangkitkan oleh sesar aktif. Gempa Yogyakarta memakan korban jiwa sekitar 5.800 sedangkan Gempa Suruga hanya satu korban jiwa.

“Kekuatannya sama-sama 6,6 skala richter. karakteristik sama, jumlah penduduk mirip, tapi ketika terjadi gempa Suruga, yang terjadi tahun 2009 yang meninggal satu orang,” kata Daryono.

Daryono mengatakan faktor penyebab minimnya jumlah korban gempa bumi di Jepang dibandingkan di Indonesia. Penyebabnya adalah pemerintah Jepang sejak tahun 1980-an, pemerintah Jepang mewajibkan bangunan anti gempa.

Ia mengatakan aturan tersebut diterapkan oleh Jepang secara ketat sehingga mau tidak mau, masyarakat harus patuh. Oleh karena itu jarang ada bangunan yang rubuh akibat gempa bumi.

Padahal rubuhnya bangunan merupakan penyebab korban jiwa, bukan gempa buminya. Daryono kemudian menegaskan bahwa bangunan anti gempa adalah langkah konkret untuk menyiapkan kesiapsiagaan terhadap bencana.

Daryono mengatakan Sesar Mangkulihat itu memiliki magnitudo tertarget mencapai M 7,0 dengan laju pergeseran 0,5 milimeter per tahun. Hal ini juga berdasarkan hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) tahun 2017.

Pernyataan ini merujuk pada gempa tektonik yang terjadi di Kalimantan Timur Kamis (16/7/2020) pukul 10.42.54 WITA berkekuatan M 4,0.

“Sesar Mangkulihat merupakan salah satu sesar aktif yang patut diwaspadai di Kalimantan. Berdasarkan hasil skenario model guncangan gempa berkekuatan M 7.0, maka terdapat beberapa wilayah yang dapat terdampak guncangan signifikan,” kata Daryono dalam keterangan resmi, Kamis (16/7/2020). [***]

Advertisements

Sumber: CNNIndonesia

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News