Bupati Tolitoli Minta Minimalisir Rapid Test Terhadap Masyarakat

  • Whatsapp
Bupati Moh Saleh Bantilan (kiri) bersama Kadis Kesehatan Tolitoli Bakri Idrus. [Ist]
Bagikan Artikel Ini
  • 63
    Shares

Tolitoli, JurnalNews.id – Untuk meminimalisir penggunaan anggaran Covid -19, Bupati Tolitoli Moh Saleh Bantilan, menyarankan agar penggunaan rapid test kepada masyarakat dibatasi, karena rapid test bukan alat diagnosa untuk mengetahui seseorang positif atau negatif Corona, melainkan hanya sebagai alat screening.

“Saya minta kepada Dinas Kesehatan dan pihak tumah sakit Mokopido Tolitoli untuk membatasi penggunaan alat repd test kepada masyarakat, pasalnya alat rapid test bukan merupakan alat diagnosa, melainkan hanya alat screening,” katanya saat menggelar rapat di Sekretariat Satgas Covid -19.

Baca Juga

Bupati menambahkan, meskipun penggunaan alat rapid test dapat mendeteksi adanya virus dalam tubuh atau tidak, tetapi alat tersebut belum bisa memastikan apakah dalam tubuh terpapar virus corona.

“Alat rapid test memang dapat mendeteksi ada virus atau tidak di dalam tubuh, tapi belum dapat di pastikan kalau virus tersebut virus corona,” jelasnya.

Jika semua masyarakat dilakukan rapid tes, berapa anggaran yang harus di sediakan, kemudian berapa lama waktu yang tersedia untuk lakukan rapid test, apalagi harga satuan alat rapid test termasuk mahal dan satu alat itu hanya digunakan untuk satu orang.

“Iya, alat rapid test itu hanya dapat digunakan untuk satu, sementara harga satuannya ada kenaikan harga dari yang sebelumnya,” ujarnya.

Olehnya Bupati berharap, agar tidak terjadinya pemborosan anggaran khususnya pengadaan alat rapid test, dengan kondisi keuangan daerah yang semakin merosot, sebaiknya Dinkes dan pihak rumah sakit Mokolido saat melakukan rapid test, hanya terhadap orang orang yang pernah kontak dengan pasien yang terkonfirmasi reaktif positif covid -19, dan terhadap Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

“Kalau perlu nanti sudah masuk rumah sakit baru dilakukan rapd test. Jadi sebaiknya rapid test hanya dilakukan pada orang yang pernah kontak dengan pasien positif corona dan PDP, ” pinta Bupati.

Sementara Sekretaris Dinkes Tolitoli Anjasmara, S.Pt, M.Si mengatakan, selama ini penggunaan alat rapid test hanya digunakan kepada masyarakat yang pernah kontak, baik itu dengan pasien yang terkonfirmasi positif covid-19 dan pasien PDP serta kepada masyarakat yang riwayat perjalanannya dari luar daerah yang masuk dalam zona merah.

“Pihak Dinkes hanya melakukan rapid test kepada masyarakat yang pernah kontak dengan pasien covid -19 dan PDP, serta masyarakat yang punya riwayat perjalanan dari luar daerah yang kategori zona merah,” katanya.

Ia juga menjelaskan, penggunaan rapid test kepada masyarakat tersebar di 10 Puskesmas yang ada di kecamatan dilakukan oleh petugas medis, dan saat ini sudah sekitar 1.200 orang yang telah di rapid test, dan masih sekitar 3.000 lebih rapid test yang tersedi.

“Rencananya sekitar 10.000 alat rapid test yang akan kita adakan, agar dapat mendeteksi setiap orang yang reaktif atau non reaktif, ” jelasnya. [***]

Penulis: Rahmadi Manggona

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News