Cerita Warga Lolos dari Maut di Wamena dengan Pura-pura Mati

Warga antre menaiki pesawat milik TNI di Bandara Wamena, Jayawijaya, Papua, Sabtu (28/9/2019). Warga terus memadati bandara untuk meninggalkan Wamena pascakerusuhan pada Senin (23/9/2019). [Antara]
Bagikan Artikel Ini
  • 419
    Shares

JurnalNews.id – Erizal, 42 tahun terpaksa harus pura-pura mati di tengah kerusuhan di Wamena, Papua, demi menyelamatkan nyawanya. Erizal adalah seorang perantau Minang dari Sungai Rampan, Koto Nan Tigo IV Koto Hilie, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Anak dan istrinya tewas dalam tragedi itu. Erizal menceritakan kisahnya di Kantor ACT Sumbar di Ulak Karang, Padang, Selasa (1/10/2019).

Baca Juga

“Alhamdulillah saya berhasil selamat dari peristiwa waktu itu, namun sayang anak dan istri saya meninggal dunia,” kata Erizal memulai cerita.

Zal, sapaannya, berkisah saat terjadi kerusuhan ia sedang berada di sebuah kios tempatnya bekerja. Di sana ia melihat sejumlah orang berkerumun mendatangi beberapa kios, termasuk ke kios tempatnya bekerja.

“Jumlah mereka sekitar 30-an orang dan kami sama sekali tidak mengenal mereka,” ujarnya yang dilansir CNNIndonesia.com.

Ia beserta istri, anak dan beberapa orang lainnya mencoba menyelamatkan diri, namun terkepung di dalam rumah yang ada di belakang kios tersebut.

Kerumunan tersebut mengetahui keberadaan mereka dan memaksa untuk membuka pintu.

“Salah seorang kemenakan saya yang bernama Yoga mencoba menahan pintu, namun mereka berhasil mendobraknya, sehingga kami dilempari, ditembaki dengan panah dan kami semua sudah pasrah mati,” katanya.

Ia melanjutkan kemenakannya yang bernama Yoga tersebut beserta anak dan istrinya meninggal dunia karena ditikam dengan parang oleh perusuh.

Loading…

Sedangkan ia berhasil menyelamatkan diri karena berpura-pura mati di dalam rumah tersebut, namun ia tetap terkena luka bakar.

“Karena setelah kami ditikam, rumah itu dibakar namun saya cepat bangkit dan menyelamatkan diri tapi tetap saja kepala dan tangan saya terbakar,” sambungnya.

Ia mencoba meminta bantuan kepada teman-teman yang ada di Kodim, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan mobil tidak bisa masuk ke sana.

“Dua jam setelah itu barulah bantuan datang, saya langsung dibawa ke rumah sakit diobati pihak medis karena mengalami luka bakar di beberapa badan saya,” ujarnya.

Erizal mempunyai dua orang anak, anak pertama bernama James Lugian Rizal (13) tengah sekolah di SMP Serambi Mekah, Padang Panjang dan anak keduanya meninggal dunia beserta istri tercinta.

Erizal sudah lebih enam tahun merantau di Wamena. Di sana dia berdagang untuk menafkahi keluarga dan mencari biaya sekolah anak.

“Selama enam tahun lebih di sana, hubungan saya dengan penduduk asli Papua baik-baik saja, kami tidak pernah ada konflik apapun,” sambung dia.

Bahkan saat terjadi kericuhan pada 23 September 2019 penduduk di sana ikut membantu menyelamatkan mereka dari kericuhan.

Ia berharap konflik tersebut bisa segera terselesaikan, sehingga tidak banyak lagi korban jiwa yang berjatuhan dan para perantau Minang di sana bisa segera dipulangkan dari Wamena. [***]

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA