Corona dan Gelombang Besar Revolusi Dunia

Dr. Rahmad Arsyad.
Bagikan Artikel Ini
  • 39
    Shares

Oleh: Dr Rahmad Arsyad
Sudah lebih sepekan saya mengikuti anjuran pemerintah, selama musim wabah Corona untuk menjalankan physical distance secara mandiri. Menjaga jarak fisik interaksi dengan orang di luar rumah. Pokoknya bekerja dari rumah, belajar, sampai mengajar sejumlah mahasiswa baik sarjana maupun pascasarjana dari rumah secara online.

Selama di rumah membuat saya memiliki waktu lebih untuk banyak membaca, mengikuti berbagai berita nasional dan internasional, serta begitu intensif mengikuti perkembangan lalu lintas informasi dari berbagai kanal media sosial, soal perkembangan terbaru seputar wabah corona.

Baca Juga

Iklan

 

Lewat berbagai peristiwa yang saya baca, lihat dan ikuti itu, membawa saya pada kesimpulan, wabah Corona telah memacu sebuah gelombang revolusi besar dunia atau setidaknya mempercepat laju perubahan tatanan sosial bumi yang sedang kita tinggali. Saya meyakini setidaknya ada 3 gelombang revolusi yang telah terjadi akibat virus asal Kota Wuhan tersebut.

Pertama, perubahan sudut pandang tentang demokrasi dan konsep negara. Kedua, ekonomi dan kebijakan prioritas anggaran setiap negara. Serta yang ketiga, gelombang revolusi besar Pendidikan utamanya di negara seperti Indonesia. Kini, wabah corona bukan sekedar membawa penyakit dan terror, tapi juga membawa gelombang besar revolusi dunia.

Corona, Negara, Demokrasi dan Totalitarianisme
Akibat penularan virus corona yang begitu mudah, hanya lewat kontak fisik bahkan akibat berdekatan jarak dengan mereka yang terpapar dapat membuat ikut tertular. Telah menimbulkan kesadaran baru bagi banyak warga dunia akan pentingnya kehadiran negara dalam mengatur kehidupan sosial dan interaksi warga.

Negara dan pemerintah yang semula diprediksi banyak kalangan ilmuwan sosial akan kehilangan peran, kini justru kembali menjadi kekuatan yang vital. Bahkan atas nama pencengahan wabah Corona, negara dan pemerintah seolah memiliki legitimasi yang untuk melakukan tertib sipil secara luas.

Kebebasan sipil yang selama ini dinikmati akhirnya mengalami pembatasan, bahkan untuk sekedar menggelar resepsi pernikahan tidak lagi dibolehkan secara leluasa. Kebijakan pendisiplinan tersebut memang terasa wajar, jika mengigat dampak virus ini bagi keselamatan banyak orang. Sekaligus menjadi penanda bahwa kehadiran negara dan aparatur kuasa yang memiliki legitimasi represif, seperti polisi memang masih tetap dibutuhkan untuk mewujudkan disiplin warga negara menghadapi krisis seperti sekarang. Bahkan sejumlah fakta terbaru menunjukkan, negara-negara dengan sistem pemerintahan totalitarian dipandang lebih efektif menghadapi situasi wabah dibandingkan negara yang bercorak demokrasi.

Lihatlah bagaimana Cina dan Korea Utara yang menurut sejumlah berita telah mampu keluar dari wabah mengerikan itu. Sedangkan negara seperti Amerika dan Italia, termasuk Indonesia, kini terlihat tertatih-tatih mengatasi wabah yang tidak kunjung reda. Bagi saya, kondisi ini bisa jadi akan melahirkan gelombang revolusi sosial di tengah masyarakat yang lelah dengan kehidupan demokrasi serta doktrin pembagian kekuasan yang selalu butuh proses panjang dalam pengambilan keputusan.

Situasi yang terjadi juga mengigatkan saya, pada penjelasan sejarawan Yuval Noah Harari tentang kebangkitan negara pengawasan, biometric surveillance. Juga novel lawas karya George Orwel yang berjudul 1984, bahwa ketika pemerintah dan negara totaliter berkuasa mutlak akan kehidupan rakyat maka kebebasan sipil merupakan fantasi yang terlarang.

Ekonomi Negara dan Kebijakan Anggaran
Saya meyakini banyak negara yang akan kembali melakukan revolusi atas pandangan kebijakan anggaran mereka setelah wabah Corona merebak. Mulai dari melakukan koreksi kembali atas pertumbuhan ekonomi negara, pendapatan, sampai menunda sejumlah proyek ambisius infrastruktur.

China misalnya, menjadi negara dengan jumlah kasus Corona terbesar di dunia mesti mengeluarkan dana sebesar 110,48 miliar Yuan atau sekitar US$ 16 miliar untuk menangani wabah Corona. Australia mempersiapkan paket stimulus fiskal untuk melindungi ekonomi terhadap dampak virus Corona yang nilainya diperkirakan mencapai 94,18 triliun.

Sementara di Indonesia, Presiden Jokowi lewat sembilan jurus melawan Corona telah mengeluarkan sejumlah paket kebijakan dari program padat karya tunai, sembako murah, sampai relaksasi untuk kredit di bawah sepuluh Miliar selama satu tahun. Menteri keuangan Sri Mulyani bahkan telah menyampaikan bahwa terdapat 62,3 triliun dari realokasi anggaran APBN, baik kementerian/Lembaga (K/L) di pemerintah pusat dan daerah yang akan dipersiapkan untuk menangani kasus virus Corona.

Belajar dari peristiwa wabah Corona yang kita hadapi hari ini, saya meyakini akan banyak negara yang menyadari betapa mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk penanganan sebuah virus seperti Corona. Sesuatu yang akan mempengaruhi revolusi paradigma kebijakan ekonomi dunia untuk mulai memperhatikan berbagai program kesehatan masyarakat dan tidak hanya berfokus pada kebijakan ekonomi dan perang dagang semata.

Revolusi Pendidikan dan Keluarga
Peristiwa wabah Corona juga mempercepat gelombang revolusi baru pada model pendidikan utamanya di Indonesia. Kini, seluruh sekolah dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi mesti melakukan pembelajaran berbasis online dan mengubah kebiasaan pengajaran yang berbasis pertemuan tatap muka di dalam kelas.

Kondisi ini, memaksa sekolah, guru dan lembaga perguruan tinggi untuk melakukan proses adaptasi lebih cepat. Sesuatu yang mungkin dalam pikiran para guru dan dosen masih akan terjadi beberapa tahun lagi, kini terjadi lebih cepat. Membuat sejumlah sekolah, guru, universitas dan sebahagian siswa kita mesti mengalami proses revolusi yang sedikit berdarah-darah.

Lewat peristiwa wabah corona juga mengajarkan banyak orang arti penting rumah dan keluarga sebagai benteng terakhir kehidupan setiap orang. “Teror di luar rumah adalah ancaman dan orang lain adalah sumber ketakutan”, kini pelan-pelan merasuki benak banyak orang.

Membuat banyak warga dunia yang semula menjalani kehidupan adalah perlombaan di luar rumah mesti kembali berpikir, bahwa pada akhirnya kita mesti kembali pada unit terkecil dalam kehidupan kita, bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan akhirnya menjalani seluruh kehidupan dari rumah.

Lalu, akhirnya saya teringat pesan Soe Hok Gie yang abadi adalah perubahan…

Iklan
loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA