Derita Mahasiswa Pasca Gempa

  • Whatsapp
Bangunan laboratorium dasar Untad yang terlihat utuh dari kejauhan, namun seluruh bangunan ini sudah retak dan sebagian besar temboknya terbelah. [JTO]

Oleh: Joko Intarto
Saya keliling Kota Palu lagi. Ditemani Pak Burhan, Dekan fakultas ekonomi Universitas Muhammadiyah Palu (Unismuh) yang juga ketua Lazismu Sulteng. Ikut juga menemani saya Pak Sudirman dari MPKU Muhammadiyah Sulteng.

Perjalanan kali ini untuk merespon telepon donatur yang hendak menambah dana bantuan sebesar Rp9 miliar, melalui telepon sehari sebelumnya. Fokusnya: sarana pendidikan.

Baca Juga

Ditemani dua dosen membuat survey program menjadi lebih mudah. “Kita ke kampus Universitas Tadulako,” kata Pak Burhan.

Di kampus negeri terbesar di Sulawesi Tengah inilah saya tahu kondisi laboratorium dasar Universitas Tadulako (Untad) termini. Bangunannya terlihat utuh. Dari jauh. Tapi dari dekat beda. Seluruh bangunan retak. Sebagian temboknya sudah Terbelah.

Sudah setahun gedung itu tidak digunakan lagi. Tepatnya sejak dilanda gempa 28 September 2018 yang lalu. “Tidak ada yang berani masuk ke gedung. Kerusakannya parah. Bisa ambruk sewaktu-waktu,” papar Pak Sudirman.

Laboratorium ini baru akan dibangun dengan anggaran tahun 2020. Dibangun 2021. Beroperasi 2022. Masih lama: 3 tahun lagi.

Laboratorium dasar Untad merupakan satu-satunya laboratorium dasar Yang ada di Sulteng. Semua lembaga pendidikan di Sulteng menggunakan lab ini, Baik lembaga pendidikan negeri maupun swasta.

Pengguna lab dasar antara lain:
– Fakultas Pertanian
– Fakultas Kehutanan
– Fakultas Kesehatan Masyarakat
– Fakultas Teknik
– Politeknik
– Kebidanan
– Keperawatan
– Farmasi
– Kedokteran
– Lingkungan Hidup
– Kelautan
– Perikanan
– Peternakan

Sejak lab tersebut hancur, mahasiswa melakukan praktik ke lab Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar.

Biaya akomodasi untuk praktik ke Makassar per mahasiswa butuh Rp 2,5 juta (transport only) dengan penginapan pekan Rp1,5 juta, kemudian makan Rp500.000 dan sewa lab Rp1 juta. Biaya ini sangat besar dan berat untuk mahasiswa. Terutama mahasiswa Yang tidak mampu/beasiswa.

“Biaya praktik di laboratorium dasar di Makassar lebih mahal dibanding biaya kuliah per semester di Unismuh,” seloroh Pak Burhan. Bercanda tapi benar.

Mengatasi masalah ini, Lazismu mengusulkan gagasan untuk membangun laboratorium dasar. Ide ini disambut pimpinan Unismuh. Bahkan Unismuh siap menyediakan lahannya. “Laboratorium ini bisa digunakan seluruh mahasiswa di Sulawesi Tengah sesuai program studinya,” kata Pak Burhan.

Kunjungan lapangan selesai. Executive report pun meluncur ke whatsapp pihak donor.Semoga ada kabar baik. Segera.[***]

Pos terkait