Diduga Ada Penggelapan Gaji untuk Ratusan Guru Honorer di Tolitoli

[Ilustrasi]
Bagikan Artikel Ini

Tolitoli, JurnalNews.id – LSM Gerakan Indonesia Anti Korupsi (GIAK) Sulawesi Tengah (Sulteng), menduga telah terjadi penggelapan gaji untuk ratusan guru honorer di Kabupaten Tolitoli.

Ketua DPD LSM Gerakan Indonesia Anti Korupsi (GIAK) Sulteng, Hendri Lamo, mengatakan sejumlah guru honorer di beberapa sekolah SD, SLTP dan SLTA mengaku tidak pernah menerima gaji, padahal mereka telah terdaftar sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) dan berhak menerima honor melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tolitoli.

Baca Juga

“Bukan hanya guru honor saja, tetapi ada juga tenaga kebersihan dan tenaga pengamanan yang tidak pernah menerima gaji,” ungkap, Hendri Lamo, di Tolitoli, Senin (19/8/2019).

Sekira 333 guru honor yang tidak menerima upah alias gaji yang melekat di dinas tersebut dimulai sejak tahun 2017 hingga 2019. Sementara informasi diperoleh, gaji ratusan tenaga pengajar itu telah dicairkan sesuai Daftar Isian Perencanaan Anggaran (DIPA) Kabupaten Tolitoli.

“Setelah mulai berlaku sistem pembayaran non tunai tahun ini, ada beberapa orang guru honor yang terdaftar sebagai penerima hanya diberikan Rp200 ribu, padahal seharusnya yang mereka terima senilai Rp1,2 juta per tiga bulan,” tambah Hendri Lamo.

Anehnya, ada sejumlah guru SD yang mengaku sama sekali tidak menerima honor yang pembiayaannya bersumber dari APBD Kabupaten Tolitoli. Bahkan, mereka juga merasa heran kalau dirinya ternyata terdaftar selaku penerima gaji di dinas itu.

“Hasil investigasi GIAK, ada atas nama Fatima yang sudah keluar sebagai guru honor di SD Galandau, Kecamatan Basidondo, namun masih terdaftar di Bagian Umum dan Kepegawaian Disdikbud, diduga yang bersangkutan gajinya telah dicairkan selama ini,” kata ketua LSM GIAK itu.

Lebih aneh lagi tamah Hendri, dalam daftar tersebut muncul nama seorang guru yang sudah berstatus PNS di SD Pekkasalo Kecamatan Dampal Selatan, namun masih tercatat sebagai penerima honor.

“Yang bersangkutan bernama Halim A Manan, guru ini tidak lama lagi akan purna dari tugasnya sebagai PNS,” sebutnya.

Menurut Hendri, dalam daftar penerimaan honorarium untuk guru honor pada bagian umum dan kepegawaian di dinas itu cara penggajiannya di DIPA dilakukan bervariasi.

Dalam daftar nama-nama 333 guru honorer, 70 orang dengan gelar sarjana digaji sebesar Rp400 ribu per tiga bulan, 70 orang lulusan SLTA diberikan gaji Rp300 ribu per tiga bulan.

Sedangkan Guru Tidak Tetap dari SLTP dan SLTA 51 orang masing-masing per tiga bulan diberikan Rp150 ribu, guru PAUD/TK dan SD 135 orang per tiga bulan Rp100 ribu.

Sementara tenaga kebersihan dan pengamanan keseluruhan tujuh orang masing-masing Rp500 ribu.

“Mereka ini diduga masuk dalam daftar, tetapi tidak pernah menerima honor secara utuh,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Disdikbud Kabupaten Tolitoli, Sukirnov Larate yang dikonfirmasi terkait hal itu mengaku belum mengetahui, jika ada persoalan gaji guru honorer.

“Saya baru mengetahui hal ini, tentunya dengan persoalan ini saya akan melakukan evaluasi,” tukas Sukirnov Larate kepada JurnalNews.id.

Kata Sukirnov, pihaknya akan melakukan evaluasi adminstrasi terlebih dulu dan hasilnya akan disampaikan kepada pimpinan yakni Kepala Disdikbud Tolitoli.

“Dalam waktu singkat saya akan evaluasi dan ditindaklanjuti ke Kadis,” katanya. [***]

Penulis; Ramlan Rizal
Editor; Sutrisno

Pos terkait

Google News