Ditahan KPK, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Bantah Terlibat Suap

  • Whatsapp
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah bersama dua tersangka lainnya mengenakan rompi oranye dihadirkan dalam Konpers di Gedung Merah Putih, Minggu 28 Februari 2021 dini hari. | Foto: Youtube KPK RI
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjebloskan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah ke Rutan KPK usai ditetapkan sebagai tersangka suap proyek infrastruktur.

Nurdin ditahan terpisah dengan dua tersangka lainnya. Nurdin bakal mendekan selama 20 hari di Rutan Cabang KPK Pomdam Jaya Guntur.

Baca Juga

Tersangka lainnya yakni ER yang merupakan Sekretaris Dinas PUPR Sulsel, ditahan di Rutan Cabang KPK pada Kavling C1 (Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi KPK).

Sedangkan seorang kontraktor berinisial AS ditahan di Rutan Cabang KPK pada Kavling C1 dan AS ditahan di Rutan Cabang KPK pada Gedung Merah Putih. Ketiga tersangka akan menjalani penahanan terhitung sejak 27 Februari 2021 sampai dengan 18 Maret 2021.

Sebelum dibawa menuju Rutan, Nurdin membantah telah menerima suap. “Ternyata Edy itu melakukan transaksi tanpa sepengetahuan saya. Sama sekali tidak tahu, demi Allah demi Allah,” ucap Nurdin di Gedung KPK, Jakarta, sebelum memasuki mobil tahanan KPK saat akan dibawa menuju Rutan, Minggu 28 Februari 2021.

Ia mengaku ikhlas menjalani proses hukum yang menjeratnya saat ini dan memohon maaf kepada masyarakat Sulsel.

“Saya ikhlas menjalani proses hukum karena memang kemarin itu tidak tahu apa-apa kita, saya mohon maaf,” ujar Nurdin.

Ketua KPK Firli Bahuri dalam konferensi pers, Minggu 28 Februari 2021 dini hari menyebutkan,  Nurdin diduga menerima total Rp5,4 miliar dengan rincian pada 26 Februari 2021 menerima Rp2 miliar yang diserahkan melalui Edy dari Agung.

Selain itu, Nurdin juga diduga menerima uang dari kontraktor lain di antaranya pada akhir 2020 Nurdin menerima uang sebesar Rp200 juta, pertengahan Februari 2021 Nurdin melalui ajudannya bernama Samsul Bahri menerima uang Rp1 miliar, dan awal Februari 2021 Nurdin melalui Samsul Bahri menerima uang Rp2,2 miliar.

Atas perbuatannya, Nurdin dan Edy sebagai penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara sebagai pemberi, Agung disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. ***

Pos terkait

Google News