Dolar AS Tembus Rp16 Ribu, Tagar Rupiah Ambyar Trending di Twitter

Suasana penukaran uang dolar dan rupiah di money changer Jakarta. [Kumparan]
Bagikan Artikel Ini
  • 96
    Shares

Jakarta, JurnalNews.id – Nilai tukar rupiah terus tertekan sejak beberapa pekan terakhir, terutama setelah merebaknya wabah virus corona. Rupiah, kini selalu berada di atas Rp 15 ribu per dolar AS.

Hari ini, nilai tukar rupiah menyentuh Rp16 ribu per dolar AS. Bank Panin pertama yang mematok rupiah Rp16.005. Sementara di bank lain sebelumnya masih kisaran Rp15.600-Rp15.990.

Baca Juga

 

Kondisi nilai tukar rupiah tersebut menjadi perbincangan dan trending di twitter dengan tagar #RupiahAmbyar. Banyak netizen menyertakan data dari google jika nilai tukar rupiah sudah tembus Rp 16.000 per dolar AS.

Namun, tentu google bukan lembaga resmi yang bisa menghitung nilai tukar rupiah atau kurs lainnya. Bank Indonesia mematok melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR.

JISDOR merupakan harga spot USD atau rupiah, yang disusun berdasarkan kurs transaksi dolar AS terhadap rupiah antar bank di pasar valuta asing Indonesia, melalui Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah di Bank Indonesia secara real time.

Mulai diterbitkan sejak 20 Mei 2013, JISDOR dimaksudkan untuk memberikan referensi harga pasar yang representatif untuk transaksi spot dolar AS atau rupiah pasar valuta asing Indonesia.

Jadi, bisa dibilang JISDOR cerminan transaksi spot dolar AS atau rupiah yang dilakukan di perbankan. Sehingga bisa menjadi patokan jika akan melakukan transaksi valas.
Pada hari ini, JISDOR mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di posisi Rp15.712.

Sementara jika di perbankan, misalnya di BCA, harga belinya Rp15.950 dan harga jual Rp16.150.
Sementara di Bank Mandiri, harga beli satu dolar AS Rp15.950 dan harga jualnya Rp16.300. Adapun di BRI harga belinya Rp15.970 dan harga jualnya Rp16.410.

Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah memprediksi nilai tukar rupiah masih akan terus melemah terhadap dolar AS. Kondisi ini disebabkan pasar keuangan masih dirundung sentimen negatif pandemic virus corona.

“Selama belum Ada berita baik terkait pandemic ini, IHSG dan nilai tukar berpotensi terus melemah,” katanya. [***]

Sumber: Kumparan

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News