DPR AS Resmi Makzulkan Presiden Donald Trump

DPR AS menyetujui pemakzulan Donald Trump. [AFP]
Bagikan Artikel Ini
  • 49
    Shares

Washington, JurnalNews.id – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) memulai sidang pemakzulan Presiden Donald Trump, Rabu (18/12/2019) malam waktu setempat atau Kamis pagi WIB.

Presiden AS ke-45 itu dikenakan dua pasal pelanggaran yang menjadi penyebab DPR, yang didominasi politisi Partai Demokrat, memakzulkannya, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi Kongres.

Baca Juga:

Trump dituduh menyalahgunakan kekuasaan dengan memaksa presiden Ukraina menyelidiki calon pesaingnya di Pemilihan Presiden AS 2020, Joe Biden. Hal ini terkait bisnis putra Biden di Ukraina.

Untuk tuduhan ini, dari total 435 anggota DPR, sebanyak 230 anggota DPR menyatakan setuju dengan pemakzulan dan 197 tidak.

Sementara satu tuduhan lagi adalah menghalangi Kongres. Trump disebut menolak bekerja sama dalam penyelidikan pemakzulan, melarang staf untuk bersaksi, serta menahan bukti dokumentasi.

Sebanyak 229 anggota DPR menyetujui, melawan 198 yang menolak pemakzulan, untuk tuduhan menghalangi Kongres.

Sementara itu, Trump dalam cuitan mengatakan, Demokrat berusaha untuk membatalkan kemenangannya dalam pemilu.

Menurut dia, politisi Demokrat berusaha membatalkan suara dari puluhan juta warga AS yang patriotik.

Dalam rapat umum dengan pendukungnya di Michigan, Trump juga mencerca Partai Demokrat dengan menyebut mereka sedang terbakar oleh api kebencian.

“Sementara kita menciptakan lapangan kerja dan berjuang bagi Michigan, kelompok kiri radikal di Kongres dipenuhi dengan rasa cemburu, kebencian, dan kemarahan, Anda lihat apa yang terjadi. Orang-orang ini gila,” kata Trump, di hadapan pendukung.

Apa yang Dilakukan Trump
Juru Bicara Gedung Putih Stephanie Grisham mengatakan, Trump bekerja seperti biasa, melakukan agenda yang telah direncanakan.

“Presiden akan bekerja,” kata Grisham, dikutip dari AFP.

Loading…

Dia juga memastikan bahwa Trump tak menyaksikan siaran langsung di DPR. Menurut Grisham, Trump tetap memantau proses ini walaupun tak menontonnya. Setelah selesai, dia akan diberi penjelasan oleh stafnya mengenai apa yang terjadi di DPR.

Banyak yang menunggu bagaimana reaksi Trump setelah DPR, yang mayoritas kursi dikuasai rivalnya yakni Partai Demokrat, melakukan voting pemakzulan. Jika melihat dari komposisi kursi, hampir dipastikan DPR akan menyetutujui.

Trump menjadi presiden keempat yang dimakzulkan setelah Andrew Johnson, Richard Nixon, dan Bill Clinton.

Andrew Johnson sangat ketika proses pemakzulan disahkan, sementara Richard Nixon dilaporkan menangis dan minum di depan menteri luar negeri saat itu, Henry Kissinger. Dia akhirnya mengundurkan diri sebelum proses pemakzulan usai.

Sementara Bill Clinton berpura-pura tetap tegar di tengah kisruh kepemimpinannya pada 1998. Seorang mantan jurnalis The New York Times dalam bukunya menggambarkan Clinton dipenuhi rasa amarah, mengeluh, serta menunjukkan kebencian.

Namun Trump tampaknya sedikit berbeda dengan para pendahulunya. Pada pagi hari sebelum anggota parlemen membuka sidang, dia memenuhi akun Twitter.

“Saya tidak melakukan kesalahan apa pun,” cuitnya.

“Kebohongan yang mengerikan,” kata dia lagi.

“Hal yang mengerikan, berdoa,” ujarnya.

Pada Rabu sore, Trump terbang ke Michigan untuk menghadiri rapat umum dengan para pendukung. Dia menghadiri rapat umum di Kota Battle Creek.

Acara ini memang sudah direncanakan sebelum voting pemakzulan ditentukan oleh Ketua DPR Nancy Pelosi pada Selasa lalu.

Namun perjalanan pemakzulan tak akan berhenti di DPR. Meski sudah disahkan, agenda ini masih akan dibawa ke Senat pada Januari 2020. Demokrat akan menghadapi perlawanan kuat karena kursi Senat dikuasai Republik.

Trump tampaknya sadar bahwa rekan-rekannya di Partai Republik akan membebaskannya dari pemakzulan.

Meski demikian, Trump tidak akan bisa menghapus tinta sejarah bahwa dia menjadi salah satu presiden AS yang dimakzulkan. [***]

Sumber; iNews

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA