Dua Wanita Asal Palu Disandera di Jember Jawa Timur

Dua wanita asal Palu yang jadi korban penyanderaan saat dibebaskan dari tempat penyekapan, di Jember, Jawa Timur, Minggu (3/11/2019). [Beritajatim]
Bagikan Artikel Ini
  • 289
    Shares

Jember, JurnalNews.id – Peristiwa memilukan baru saja dialami oleh dua orang wanita asal Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Keduanya dilaporkan disandera selama enam hari di sebuah rumah yang berlokasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Dikutip dari Beritajatim.com, dua wanita yang disandera itu adalah warga Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, yakni Erfawati (53) yang berprofesi pedagang dan Nur Ipah (52) yang berprofesi pegawai negeri sipil (PNS).

Baca Juga

Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal turun langsung saat proses pembebasan dua perempuan itu pada Minggu (3/11/2019).

“Mereka disandera karena masalah utang-piutang,” kata Alfian, Senin (4/11/2019).

Dia menjelaskan, kedua perempuan itu disandera oleh seseorang berinisial MA (56), warga Dusun Loncatan, Desa Mangaran, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember dan Kar (53), warga Desa Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai.

Kasus penyanderaan itu bermula ketika Erfawati dan Nur Ipah berbisnis beras dengan Kar untuk dijual kepada korban gempa di Palu pada Mei 2019 lalu. Ternyata harga beras yang hendak dijual itu terlalu mahal.

“Sehingga akhirnya beras itu dijual murah atau dijual rugi,’ kata Alfian.

Loading…

Kerugian ini membuat dua warga Palu itu dibebani tanggungan sebesar Rp230 juta. Kar minta bantuan MA dan MA menghubungi kedua warga Palu itu.

“Dikatakan korban akan dibantu persoalan uang yang dianggap utang piutang itu,” kata Alfian.

Karena percaya akan dibantu, lantas Erfawati dan Nur Ipah berangkat ke Jawa Timur. Mereka dijemput MA di Bandara Juanda Surabaya pada Selasa (28/10/2019).

“Keduanya berniat baik memberitahukan persoalan utang senilai Rp 230 juta ke Kar akan diselesaikan setelah proses jual beli tanah di Jakarta,” ujar Alfian.

Dua warga Palu itu hendak ke Jakarta untuk menyelesaikan proses jual beli tanah tersebut. Namun MA punya pendapat berbeda. Dia ingin mereka tetap di rumahnya di Jember. Di rumah itu ternyata ada Kar.

“Mereka tidak boleh keluar meninggalkan rumah sampai persoalan utang selesai. Kedua korban selama enam hari berada di rumah terlapor,” ungkap Alfian.

Rupanya aksi penyanderaan ini tercium polisi. Alfian dengan ditemani Kasat Reskrim AKP Jumbo Qontasson, Kapolsek Jenggawah AKP Udik Budiarso, dan Kapospolsubsektor Ajung Iptu Prayitno segera mendatangi rumah MA, pada Minggu (3/11/2019) sekira Pukul 15.00 WIB. Hingga kemudian mereka mengamankan berhasil membebaskan korban dan MA. [***]

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA