Dugaan Proyek DI Salugan Pakai Material Ilegal Makin Terang

Material batu yang digunakan untuk proyek DI Salugan yang diduga ilegal karena diambil dari lokasi tak berizin, di Desa Janja, Kecamatan Lampasio Kabupaten Tolitoli. [R. Manggona]
Bagikan Artikel Ini
  • 309
    Shares

Tolitoli, JurnalNews.id – Dugaan proyek pembangunan Daerah Irigasi (DI) Salugan di Kabupaten Tolitoli senilai Rp212 miliar menggunakan material tak berizin kini makin terang adanya.

Hal tersebut berdasarkan pengakuan Kepala Desa Janja, Kecamatan Lampasio Kabupaten Tolitoli, H. Mihra yang menyebutkan, pelaksana proyek mengambil material galian C berupa batu di wilayahnya, untuk digunakan pada proyek yang dikerjakan PT. Brantas Abipraya.

Baca Juga

Memuat...

 

“Saya perkirakan, sudah ada sekitar 100 ret batu yang diambil oleh perusahaan untuk pembangunan Irigasi,” katanya, kepada media ini pada Kamis (6/2/2020).

H. Mihra mengakui, bahwa material batu yang diambil dari desanya untuk pembangunan proyek irigasi tersebut belum memiliki izin pertambangan galian C, karena material tersebut tidak layak digunakan untuk proyek-proyek infrastruktur, termasuk proyek irigasi.

“Belum pernah ada izin galian C yang dikeluarkan untuk pengambilan material berupa batu di wilayah kami. Karena materialnya tidak layak digunakan untuk proyek-proyek fisik,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama ini untuk mengerjakan proyek-proyek kecil yang dibiayai Dana Desa (DD), pihaknya juga tidak pernah menggunakan material terutama batu yang ada di desa tersebut. Tetapi harus mendatangkan dari lokasi yang telah berizin.

“Kalau ada proyek di desa, material itu kami ambil datangkan dari Desa Kalangkangan dan Tinigi, karena setahu kami material di wilayah itu sudah teruji dan berizin,” ungkapnya.

 

Pengakuan Kepala Desa Janja tersebut mementahkan klaim pelaksana lapangan Proyek DI Salugan, Faruk, yang membantah penggunaan material ilegal dan tak layak pakai.

Sebelumnya, Faruk mengaku material batu diambil dari Desa Dadakitan, Kecamatan Baolan. Sedangkan material pasir diambil di lokasi resmi dan berizin, yakni di Desa Kalangkangan, Kecamatan Galang.

“Pasir yang ada di lokasi proyek adalah hasil galian, sedangkan batu kami ambil dari Desa Dadakitan,” aku Faruk, kepada JurnalNews.id, Kamis (30/1/2020).

Klaim Faruk tersebut juga sempat dibantah salah satu aparat Desa Oyom, Ahmad Pombang. Menurut Ahmad Pombang, pihaknya melihat batu ukuran kelapa yang dipergunakan untuk pembangunan DI tersebut merupakan batuan dari sungai Desa Janja, sedangkan pasir sumbernya dari sungai Desa Oyom

“Penjelasan Faruk terkait lokasi pemgambilan pasir dan batu itu tidak benar. Nampak jelas kok, kalau semua material itu hanya diambil dari sekitar lokasi proyek,” kata Ahmad Pombang.

Untuk diketahui, proyek pembangunan DI Salugan yang dikerjakan PT Brantas Abipraya (persero) dengan total anggaran sebesar Rp212.300.000.000,- dengan Nomor kontrak: 03/SP/PPK-IRWA 1 /SATKER-PJPA-WS.PL.PP.KK/2017 tahun anggaran 2017-2020, dengan jangka waktu pelaksanaan selama 1.149 hari kalender. [***]

Penulis; R. Manggona
Editor; Sutrisno

loading...

Berita terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA