Ekonomi Indonesia Rapuh karena Ketergantungan Impor

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Advertisements
Ilustrasi

Jakarta, Jurnalsulteng.com- Selama ini terdapat beberapa hal yang membuktikan rapuhnya perekonomian Indonesia. Salah satunya ketergantungan sangat tinggi terhadap impor, baik bahan baku maupun produk jadi.

Begitu disebutkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Nasyir Mansyur dalam talk show Bincang Senator 2015 bertema ‘Gejolak dan Masa Depan Rupiah’ di Senayan City, Jakarta (Minggu, 29/3/2015).

Baca Juga:

“Impor bahan baku untuk industri kita mencapai 75 persen, ini tidak main-main tingginya. Kenapa bisa terjadi karena kita sendiri tidak bisa jalan. Upaya hilirisasi itu tidak ada yang jalan,” bebernya.

Dia mencontohkan dalam industri sektor petrokimia, di mana hampir 95 persen bahan bakunya harus impor dari luar negeri.

Advertisements
Advertisements

“Ini sangat tidak sehat ya, begitu juga dalam hal impor migas sampai 45 persen. Belum lagi pangan yang hingga 65 persen,” sambung Nasyir.

Dalam hal pangan, ketergantungan Indonesia tidak hanya pada bahan pokok seperti bawang, beras, gula maupun jagung, tapi juga dalam bahan baku usaha waralaba.

“Jadi tidak hanya beras, gula, kedelai, jagung atau daging, tapi franchise kita juga semua impor. Bahkan tempe saja kita tidak bisa aman karena mereka sangat tergantung kedelai impor,” demikian Nasyir. [Rmol] 

Advertisements

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News