Gas Metan TPA Kawatuna Berpotensi Suplai Listrik Kota Palu

  • Whatsapp
Seorang pemulung melintas di depan sumur penampung gas metan yang berpotensi mwnghasikan energi pembangkit listrik tenaga biogas, di TPA Kawatuna, Kota Palu. [Antara]

Palu, JurnalNews.id – Keberadaan gas metan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sangat berpotensi untuk solusi menambah suplai energi listrik di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Dilansir dari Antaranews.com, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu Firman, mengatakan, tumpukan sampah di TPA Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore berpotensi menghasilkan energi terbarukan yang cukup besar namun belum terkelola dengan baik.

Baca Juga

“Pascabencana, kami masih fokus menangani kebersihan kota. bagaimana sampah-sampah di dalam kota bisa terangkut ke TPA sehingga pemerintah belum terkonsentarsi mengurus pengelolaan gas metan,” ujar Firman, di Palu, Rabu (11/9/2019).

Dia menjelaskan, pada pemerintahan sebelumnya Pemkot Palu menjalin kerja sama dengan Pemkot Boras, Swedia untuk mengolah energi yang bersumber dari sampah di TPA Kawatuna untuk dijadikan sebagai sumber listrik.

Dalam kerja sama itu, Pemkot Boras mendatangkan dua mesin pembangkit tenaga biogas dan sempat beroperasi, namun saat ini tidak lagi sebab mesin pembangkit tersebut kondisinya rusak.

Diuraikannya, di zona reigion satu terdapat 11 sumur gas metan dengan luas hamparan sekitar 1,1 hektare yang saat itu terkelola mampu menghasilkan energi listrik sebesar 54.000 kilowatt dari sebagian kecil sumur gas beroperasi.

Dalam nota kesepahaman, Pemkot Palu tidak mengalokasikan energi listrik untuk dikerjasamakan dengan pihak berkompeten.

“Energi yang terdistribusi saat itu hanya sekitar 5.000 kilowat dan hanya digunakan untuk menerangi rumah-rumah pemuling di sekitar TPA,” katanya menambahkan.

Menurut Firman, jika pengelolaan energi tersebut dilakukan secara optimal melalui kerja sama PLN sebagai pihak ketiga sekaligus mitra pemerintah bisa menambah suplay listrik di Palu meskipun daya dihasilkan tidak sebesar pembangkit yang lain, paling tidak memberikan konstribusi energi.

Saat ini zona region dua dengan luas hamparan sekitar 1,2 hektare telah diamnfaatkan sebagai tempat sampah. Hamparan itu dinilai sudah potensial memproduksi gas metan.

“Jika dua zona itu terkelola dengan baik, diperkirakan mampu menghasilkan energi listrik sekira dua megawatt. Sejauh ini belum ada komunikasi dibangun dengan pihak PLN merencanakan pengelolaan gas metan,” ucap dia.

Dikemukakannya, potensi lahan TPA Kota Palu di kawasan tersebut mencapai sekitar 20 hektare lebih, namun yang baru memiliki sertifikat atau alas hak seluas lima hektare dan lahan yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 2,3 hektare. [***]

Pos terkait