ICAF: GIDI Berpotensi Jadi Organisasi Teroris

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Advertisements
Pembakaran rumah, kios, dan masjid saat Idul Fitri di Kabupaten Tolikara, 
Papua, Jumat (17/7/2015). [Foto: Pojoksatu.id]

Jakarta, Jurnalsulteng.com- Tanpa disadari, peristiwa Tolikara menujukkan ada proses awal dari sebuah kebiadaban besar bernama terorisme.

“Unsur-unsur dari peristiwa terorisme sebenarnya telah terpenuhi pada kejadian di Tolikara,” kata peneliti terorisme dari Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B Nahrawardaya, dalam keterangan beberapa saat lalu (Sabtu, 24/7/2015).

Baca Juga:

Unsur itu, jelas Mustofa, pertama ada ideologi yang mendorong pelaku untuk melakukan kekerasan berupa perusakan, pembakaran, dan perbuatan menebar kebencian yang mana beberapa perilaku ini dapat disebut sebagai tindakan-tindakan radikalisme. Adanya surat intoleran dari GIDI, cukup sebagai bukti adanya satu ideologi yang mendorong mereka untuk melakukan teror.

Kedua, ada efek berantai akibat perbuatan teror para pelaku. Efek ini berupa ketakutan massal. Efek ketakutan massal tidak hanya dirasakan oleh orang Islam saja, tetapi juga dirasakan oleh Kristen selain yang mengikuti aliran atau organisasi para pelaku.

Advertisements

“Seperti diketahui, bahwa korban dari perbuatan pelaku teror Tolikara, tidak hanya pihak Islam, namun juga pemeluk agama-agama lain, termasuk Kristen sendiri,” ungkap Mustofa.

Ketiga, lanjtunya, pelaku diketahui memiliki jaringan. Dengan adanya banyak cabang organisasi para pelaku, bahkan adanya jaringan di luar negeri, maka dimungkinkan jaringan ini telah dan akan berkontribusi untuk melakukan perilaku teror bahkan bisa lakukan tindakan terorisme pada waktu dan tempat berbeda di waktu mendatang.

Advertisements

“Jika tidak dihentikan dari awal, maka GIDI berpotensi menjadi organisasi teroris besar seperti Al Qaeda atau Jamaah Islamiyah,” tegas Mustofa.

Keempat, sambungnya lagi, terkait dengan pendanaan teror. Tidak mungkin para pelaku teror lapangan bekerja tanpa pendanaan. Banyaknya massa, adanya minyak, adanya pemantik api, adanya peralaan sound system, adanya gerakan massa merusak bahkan keberanian melakukan teror di depan markas militer, sangat mungkin didorong oleh adanya unsur pendanaan untuk melakukan teror.

Kelima, ungkap Mustofa, adanya penghinaan kepada Negara. Perilaku kekerasan berupa pembakaran tempat ibadah yang mana bangunan tersebut terletak di dekat Koramil, membuktikan bahwa para pelaku dan sutradaranya terbukti secara brutal melakukan penghinaan dan pelecehan pada simbol negara tanpa rasa takut.

“Sudah intoleran, plus pamer kekerasan di depan hidung tentara,” demikian Mustofa. [***]

Advertisements

Sumber; Rmol

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News