IMF Prediksi Ekonomi RI 2020 Minus 1,5 Persen

  • Whatsapp
Ilustrasi Pertumbuhan ekonomi 2020. [Okezone]
Bagikan Artikel Ini
  • 18
    Shares

Washington, JurnalNews.id – Dana Moneter Internasional (IMF) merilis laporan terbaru dari perkiraan ekonomi dunia pada 2020. Laporan itu merevisi proyeksi sebelumnya pada Juni lalu.

Sejumlah perubahan dipengaruhi oleh kebijakan negara selama pandemi Covid-19. Ekonomi global pada 2020 diproyeksikan terkontraksi sebesar 4,4 persen.

Baca Juga:

Prediksi tersebut direvisi naik dari perkiraan minus 4,9 persen pada Juni lalu, yang kini juga telah direvisi menjadi minus 5,2 persen karena metodologi baru yang digunakan oleh IMF. Sementara untuk pertumbuhan pada 2021, IMF memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) global tumbuh positif menjadi 5,2 persen, dari perkiraan 5,4 persen pada Juni.

Perkiraan itu didasarkan pada asumsi bahwa aturan social distancing selama pandemi masih akan berlanjut hingga 2021 dan penularan infeksi diprediksi menurun pada akhir 2022. “Sementara ekonomi global perlahan pulih, kenaikannya kemungkinan akan lama, tidak merata dan tidak pasti. Khusus di beberapa pasar dan negara berkembang prospek telah memburuk secara signifikan,” ujar kepala ekonom IMF, Gita Gopinath dikutip dari CNBC Rabu (14/10/2020).

Advertisements

Lantas bagaimana dengan perkiraan ekonomi Indonesia? Dalam laporan tersebut yang berjudul A Long and Difficult Ascent, IMF memprediksi PDB Indonesia terkontraksi 1,5 persen pada 2020, lebih turun dari perkiraan minus 0,3 persen Juli lalu. Sedangkan pada 2021 tumbuh positif 6,1 persen.

“Pasar dan kawasan ekonomi berkembang diperkirakan terkontraksi tahun ini, termasuk Asia yang sedang berkembang, di mana ekonomi besar seperti India dan Indonesia tengah mencoba mengendalikan pandemi,” tulis laporan tersebut.

Advertisements

Hampir semua ekonomi negara di ASEAN diprediksi minus tahun ini, seperti Singapura minus 6,0 persen, Thailand minus 7,1 persen, Malaysia minus 6,0 persen, Filipina minus 8,3 persen. Sementara Vietnam positif 1,6 persen.

IMF menyarankan pemerintah negara anggota untuk menjaga beberapa tingkat kebijakan akomodatif, mencegah kesenjangan yang lebih luas dalam distribusi pendapatan, meskipun utang publik akan meningkat.

Utang negara-negara maju diperkirakan mencapai 125 persen dari PDB pada akhir 2021 dan 65 persen dari PDB di pasar negara berkembang selama periode yang sama.

IMF mengatakan, suku bunga rendah setidaknya diharapkan dapat meredam lonjakan utang dan pemulihan ekonomi pada 2021 akan membantu membayar kembali sebagian utang baru.

Advertisements

Selain itu, IMF menyebut ketegangan geopolitik, gesekan perdagangan, bencana alam, perubahan kondisi pendanaan dan wabah berlanjut tetap menjadi risiko penurunan proyeksi. [***]

Iklan
loading...

Berita Lainnya

Google News