Ini Wanita yang Bikin Mary Jane Batal Dieksekusi Mati

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Advertisements
Maria Cristina Sergio

Jakarta, Jurnalsulteng.com – Terpidana Mary Jane Veloso batal dieksekusi mati malam ini. Penyebabnya ada bukti baru dalam kasus ini.

Dalam pertemuan dengan sejumlah pejabat, Presiden Jokowi meminta hukuman mati Mary Jane ditunda hingga kasusnya terang. Pemerintah Filipina pun melobi agar status Mary Jane bisa berubah menjadi saksi untuk membongkar sindikat Narkoba internasional.

Baca Juga:

Fakta itu terungkap saat seorang wanita bernama Maria Cristina Sergio menyerahkan diri ke kepolisian Nuefa Ecija, Filipina. Dia merupakan penyalur Mary Jane Veloso.

Maria menyerahkan diri hanya berselang beberapa jam sebelum Kejaksaan Agung Indonesia menyampaikan jadwal eksekusi yang akan dijalani oleh Mary Jane. Maria yang memiliki nama lain yaitu Mary Christine Gulles Pasadilla ini menyerahkan diri dengan alasan takut dengan kehidupan MJ setelah dia menerima putusan hukuman mati.

Advertisements

“Dia menyerahkan diri dengan alasan merasa bersalah pada Mary Jane yang akan dieksekusi di Indonesia,” kata seorang petugas di kantor kepolisian Nueva Ecija, seperti dilansir dari media Philstar.com, Selasa (28/4).

Maria sendiri menyerahkan diri bersama dua orang lainnya yang tidak disebutkan namanya.

Mary Jane Veloso ditetapkan bersalah pada 2010 oleh Hakim di Indonesia lantaran secara ilegal membawa obat-obatan terlarang. Wanita 30 tahun tersebut mengaku sebagai korban sindikat narkoba.

Akhirnya perjuangannya membuahkan hasil. Mary Jane lolos dari hukuman mati. Setidaknya, malam ini.

Perjuangan Berliku

Advertisements

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menentang peredaran narkoba yang sudah merusak bangsa. Namun dalam kasus Mary Jane Veloso, komisi melihat ada ketidakadilan.

Mary merupakan wanita asal Filipina yang miskin. Dia berniat menjadi buruh migran ke Malaysia, tetapi tertipu menjadi korban perdagangan manusia hingga tertangkap di Yogyakarta. Tanpa sepengetahuannya, didapati heroin seberat 2,6 kg di tas saat petugas Bandara dan Imigrasi Yogyakarta memeriksa.

Mary, karena kemiskinannya, hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMP, kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas, pernah menjadi buruh migran di Dubai dan alami percobaan perkosaan. Dia juga pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan seorang ibu tunggal dari 2 orang anak.

“Kami 3 hari bertemu Mary Jane di Lapas Wirogunan dan sejumlah orang-orang kunci yang mengetahui detail tentang kasusnya,” kata Ketua Komnas Perempuan Azriana kepada merdeka.com.

Temuan ini disampaikan ke presiden untuk mendapatkan informasi utuh tentang kasus Mary Jane dan mengambil keputusan bijak. Komnas Perempuan juga sudah mengirimkan 2 kali surat resmi kepada presiden, surat pertama tentang pertimbangan hukum dan surat kedua berisi laporan hasil pemantauan bertemu langsung dengan Mary Jane dan orang-orang kunci.

Menurutnya, sejumlah fakta ditemukan. Pertama korban pemiskinan. Mata pencaharian utama keluarga Mary Jane adalah pengumpul dan penjual barang bekas. Mary Jane Veloso hanya menempuh pendidikan hingga SMP kelas 1, lalu putus sekolah.

Lalu, Mary Jane direkrut oleh tetangga suaminya, Maria Kristina P. Sergio untuk bekerja ke Malaysia sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), masuk negara tersebut dengan visa turis tanpa dokumen kerja resmi. Mary Jane Veloso telah membayar biaya keberangkatan dengan menyerahkan motor dan telepon genggamnya senilai 7000 Peso pada Kristina.[***]

Advertisements

Sumber; Merdeka

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News