Israel Sabotase Masjid Al-Aqsa Agar Tak Bisa Kumandangkan Azan

  • Whatsapp
Polisi Israel menyabotase kunci pintu di empat menara Masjid Al-Aqsa dalam upaya untuk membungkam adzan selama Ramadhan. | Foto: Shutterstock
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Polisi Israel menyabotase kunci pintu di empat menara Masjid Al-Aqsa. Hal itu dilakukan sebagai upaya agar tidak bisa mengkumandangkan azan.

Sabotase dilakukan dilakukan setelah petugas yang mengawasi situs suci Yerusalem Masjid Al-Aqsa, menolak mematikan pengeras suara pada hari pertama Ramadhan.

Baca Juga

Alasannya, karena Israel menginginkan ketenangan saat tentara baru berdoa di tembok Buraq (Barat).

Dikutip dari Arab News, Yordania mengecam tindakan polisi Israel yang telah membungkam adzan.

Pejabat Yordania menyebutkan, petugas wakaf Yerusalem yang dikelola Yordania dan departemen urusan Al-Aqsa diganggu selama operasi polisi.

Daifallah Al-Fayez, juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, menggambarkan tindakan Israel tersebut sebagai provokasi terhadap Muslim di seluruh dunia dan pelanggaran hukum internasional dan status quo historis.

Dia mengatakan bahwa Masjid Al-Aqsa adalah situs suci Islam “murni” dan bahwa departemen wakaf Yerusalem adalah “satu-satunya otoritas” yang bertugas mengawasi semua urusannya.

Sebuah sumber di Dewan Wakaf Yerusalem mengatakan, kejadian ini adalah pertama kalinya sejak 1967 penjajah Israel menyabotase kunci untuk memasuki menara dan secara fisik memutus aliran listrik ke pengeras suara.

“Dan mereka mengejar pejabat dan staf wakaf yang menolak untuk melaksanakan tuntutan mereka,” sebut sumber yang dilansir Arab News.

Israel adalah penandatangan banyak perjanjian internasional yang mewajibkan untuk menghormati tempat-tempat suci.

Sebuah sirene Israel dibunyikan di Yerusalem pada pukul 8 malam pada hari Selasa sebagai penghormatan kepada 23.928 tentara yang jatuh di negara itu dengan panggilan sholat isya hari itu di kota itu pada pukul 8:29 malam.

Hanna Issa, kepala Komite Islam-Kristen untuk Yerusalem, mengatakan kepada Arab News bahwa tindakan Israel telah melanggar Konvensi Roma 1998 dan meminta komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel.

Dimitri Diliani, presiden Koalisi Kristen Nasional di Tanah Suci, mengatakan kepada Arab News bahwa insiden itu merupakan upaya untuk melumpuhkan kebebasan beragama dan merupakan serangan terhadap tempat-tempat suci Islam.

“Selain itu, ini merupakan cerminan dari kebijakan rasis penjajah Israel yang tidak dapat menerima siapapun yang bukan Yahudi,” ujarnya.

Ahmad Tamimi, anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, mendesak tindakan internasional untuk mengakhiri pelanggaran Israel atas tempat-tempat suci Muslim di Yerusalem. ***

Berita Terkait

Google News