Kapolda Sulteng: Operasi Tinombala Tak Akan Dihentikan

  • Whatsapp
Kapolda Sulteng Irjen Pol Drs. H. Syafril Nursal, SH, MH. [Humas Polda]
Bagikan Artikel Ini
  • 166
    Shares

 

Palu, JurnalNews.id – Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Irjen Polisi Drs. Syafril Nursal, SH, MH menegaskan, Operasi Tinombala yang digelar selama ini berdasarkan evaluasi berhasil mengamankan orang baik yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) maupun simpatisan MIT Poso.

Baca Juga

Hal ini kembali ditegaskan Kapolda Sulteng dihadapan anggotanya pada saat memimpin apel di Mapolda Sulteng, setelah dinyatakan negatif covid-19, pada Senin (15/6/2020) pagi.

Kapolda mengatakan, dalam pertemuan dengan 9 tokoh muslim Poso yang digelar pada 2 Juni 2020, maupun dialog di Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Palu pada 11 Juni 2020. Pada dialog dengan topik “Sampai Kapan Operasi Tinombala Digelar, secara tegas Kapolda Sulteng menyatakan, bahwa Jangankan dihentikan, dikendorkan saja tidak boleh. Operasi Tinombala Terus Digelar.

“Ini juga untuk menjawab tuntutan beberapa pihak yang menginginkan operasi Tinombala dihentikan,” katanya.

Lebih jauh Kapolda Sulteng mengatakan, digelarnya terus operasi Tinombala ini disebabkan produksi teroris yang berada di bawah tidak berhenti.

Advertisements

“Saya akan menunjukan data dari tahun 2011 sampai dengan 2020, dimana tahun 2011 jumlah DPO yang diatas gunung berjumlah 11 orang, dalam operasi tinombala ditangkap 4 orang. Juga terjadi penangkapan di luar DPO sebanyak 7 orang dan itu adalah mereka-mereka yang akan bergabung diatas gunung dengan membawa peralatan untuk mendukung kegiatan diatas gunung biru Poso,” urainya.

Lanjut Kapolda, kemudian pada 2012 ada 7 orang DPO ditangkap, tahun 2013 DPO dari 7 orang menjadi 24 orang, 2014 turun menjadi 20 dimana 2 DPO diotangkap 25 orang diluar DPO ikut ditangkap, tahun 2015 DPO tersisa 18 orang, ditangkap 5 diluar DPO ditangkap 23 orang, tiba-tiba tahun 2016 DPO menjadi 41 orang, ditangkap DPO 32 orang dan 6 orang diluar DPO.

Tahun 2017 DPO turun menjadi 7 orang, tahun 2019 naik menjadi 10 orang dan ditangkap 3 orang dalam perkembangannya DPO Kembali naik menjadi 18 orang yang diatas gunung biru.

Dalam operasi tinombala tahap II 2020 Polri sudah menangkap 5 DPO dan 17 orang diluar DPO yang diketahui membawa peralatan termasuk bahan peledak untuk membuat bom.

“Jadi operasi Tinombala itu baru bisa kita hentikan apabila semua teroris yang ada di Poso, baik yang berada di atas gunung ataupun yang berada di bawah sudah ditangkap dan diselesaikan masalahnya. Namun saat ini hanya dilakukan proses hukum penangkapan untuk yang berada diatas,” sebutnya.

“Sedangkan yang di bawah tidak digarap. Persoalan di bawah ini bukan persoalan polisi, seperti contoh ada kelompok-kelompok di sana yang membina teroris, ada pesantren yang tidak jelas izinnya, tidak jelas kurikulumnya, tidak jelas bahan ajarnya, tidak jelas pengajarnya, tidak jelas sikapnya. Itu bagian siapa yang melakukan pengawasannya. Itu tentu bagian pemerintah, termasuk pemerintah daerah,” katanya.

Ia menambahkan, ada Kementrian Agama yang mestinya melakukan penelitian soal izin mendirikan pondok pesantren.dan kita tau bagamaina masyarakat disana terpapar, maka perlu upaya-upaya untuk merubah mindset mereka untuk tidak menjadi teroris atau pemerintah harus membuat programnya bagaimana mereka-mereka bisa diberikan pelatihan.

“Selama yang di bawah tidak dikelola dengan baik, maka operasi Tinombala ini tidak akan berhenti,” tutup Syafril Nursal. [***]

Editor: Sutrisno/*

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News