Kasus Kekerasan Jurnalis, PH: Polres Palu Tidak Transparan

Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Penasehat Hukum (PH) Andono Wibisono, Pemred  Kaili Post, Amat Entedaim, SH mendatangi Polresta Palu, Kamis (8/6/2017) sore.

Kedatangan Amat Entedaim tersebut untuk mempertanyakan perkembangan penanganan kasus pengeroyokan yang dialami Andono Wibisono di salah satu warung kopi, Selasa (23/5/2017) lalu. Pasalnya, meski sudah ditetapkan lima orang tersangka, namun hingga saat ini belum diketahui perekembangannya dalam pemanganan kasus kekeran terhadap jurnalis  yang melibatkan seorang pejabat ASN di Kabupaten Sigi itu.

Baca Juga:

Bahkan, Polres Palu dinilai sangat tertutup dan tidak transparan untuk memberikan perkembangan penanganan kasus tersebut kepada korban.

Namun kedatangan Amat Entedaim tidak berhasil menemui pejabat di Polres Palu, karena tidak berada di tempat. Kasat Reskrim AKP Wiliam juga tidak ada.

‘’Bapak Kapolresta juga tidak ada. Kami hanya butuh mengetahui sesuai hak dalam aturan perundang-undangan. Ini akan menjadi catatan kami. Sengaja saya datang bersama para pimpinan media agar mengetahui persis perkembangan penanganan kasus ini,’’ tandas Amat Entedaim serius.

Amat Entedaim datang ke Mapolres bersama beberapa orang diantaranya Syahriel Dg Polle (Aktifis anti kekerasan Sulteng), Sutrisno (Owner/Pemred Jurnalsulawesi.com), Agus Manggona
(Pemimpin Redaksi Media Logis), Lasnardi Lahi (Pimpinan Celebes Post) dan Lukman (Pemred Rajawali Post).

Amat Entedaim SH juga mengancam bila sampai Polresta tertutup dan bermain-main dengan kasus kliennya, maka tidak menutup kemungkinan kasus ini akan dilaporkan ke Polda Sulteng dan Mabes Polri.

‘’Kami mendesak kasus ini dari awal agar transparan, berkeadilan dan profesional. Karena sesuai BAP kliennya saya dalam peristiwa itu melibatkan nama pejabat dan tersangka pejabat. Ini harus jadi perhatian semua pihak,’’ tandas mantan Ketua Peradi Sulteng itu serius.

‘’Kami ke sini lagi untuk audensi dengan Bapak Kapolresta. Saya memiliki hak atas nama korban mengawasi proses (penyidikan) ini sejauh mana perkembangannya. Tapi sampai jelang buka puasa tidak ada yang bisa ditemui,’’ ujar Amat kecewa.

Sementara itu, korban Andono Wibisono juga berusaha menghubungi Kasat Reskrim Polres Palu, AKP Wiliam via telpon genggamnya dan SMS. Awalnya ditelpon tidak diangkat. Ketika di SMS menanyakan kasusnya dan sulitnya wartawan Kaili Post mengawal pemberitaanya.

“Mhn maaf pak, br bls. Trkait perkembangan kasus, scr prosedur km akan buatkan SP2HP kpd bpk selaku korban. Kalau kpd wartawan, sy tdk akan beri keterangan, krn harus satu pintu melalui kasubag humas, kecuali ada perintah untuk sy mewakili beri keterangan. Seperti itulah mekanisme yg berlaku di kami.tks,’’ tulis Kasat Reskrim Polres Palu, AKP Wiliam dalam SMS-nya kepada Andono Wibisono.

Sebelumnya, Polresta Palu telah menetapkan lima tersangka penggeroyokan pemimpin redaksi Harian Kaili Post (23/05/2017) di sebuah warung kopi di Jalan Masjid Raya Palu Selatan. Salah satu tersangka adalah Andi Wulur, salah seorang ASN, pejabat di Bappeda Sigi.

‘’Lima tersangka sudah kami surati dipanggil untuk Rabu (07/06/2017). Kami baru mengirim surat panggilan karena ada dua tersangka yang sulit alamatnya,’’ ujar penyidik.

Penyidik berharap kelima tersangka memenuhi panggilan tepat waktu. Bila para tersangka tidak mengindahkannya, penyidik akan melakukan jemput paksa terhadap para tersangka.

“Kami berharap semua dapat berjalan sesuai dengan perintah pimpinan,” singkatnya pada wartawan Senin (05/06/2017) malam. [KP]

loading...

Berita Lainnya

Google News