Kemenhub Temukan Tiga Pesawat Boeing 737 NG di Indonesia Mengalami Retak

Salah satu pesawat milik maskapai Sriwijaya Air. [Ilustrasi]
Bagikan Artikel Ini

Jakarta, JurnalNews.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan pemeriksaan terhadap pesawat Boeing 737 New Generation (NG) yang beroperasi di Indonesia per 10 Oktober 2019. Direktur Kelaikudaran dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Avirianto mengatakan terdapat pesawat yang mengalami retakan.

“Pesawat dengan umur lebih dari 30 ribu siklus terbang pertanggal 10 Oktober 2019, ditemukan terdapat tiga pesawat yang mengalami retakan,” kata Avirianto, Selasa (15/10/2019).

Baca Juga

Dia merinci terdapat keretakan pada salah satu dari tiga pesawat B 737 NG milik Garuda Indonesia yang berumur melebihi 30.000 siklus terbang. Selanjutnya terdapat keretakan pada dua pesawat B 737 NG milik Sriwijaya Air dari lima pesawat yang berumur lebih dari 30 ribu siklus terbang. Sedangkan maskapai Batik Air dan Lion Air tidak memiliki pesawat yang berumur melebihi 30 ribu siklus terbang.

Dilansir dari Republika Avirianto memastikan, Kemenhub memberhentikan operasi tiga pesawat B 737 NG yang mengalami retakan tersebut. “Saat ini, masih menunggu rekomendasi lebih lanjut dari Boeing,” tutur Avirianto.

Selanjutnya, Avirianto meminta maskapai yang mengoperasikan B 737 NG yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, dan Sriwijaya Air memasukkan pemeriksaan atau inspeksi sesuai DGCA AD 19-10-003. Pemeriksaan tersebut dimasukkan ke dalam maintenance program dengan interval rutin setiap 3.500 siklus terbang.

Sebelumnya, Badan pengatur pesawat Federal Aviation Administration (FAA) melaporkan temuan retakan pada frame fitting outboard chords dan failsafe straps adjacent to the stringer S-18A straps pada pesawat tipe B 737 NG. Hal tersebut dapat mengakibatkan kegagalan Principal Structural Element (PSE) untuk mempertahankan batas beban.

Kondisi tersebut dapat mempengaruhi integritas struktural pesawat dan mengakibatkan hilangnya kontrol pesawat. Untuk itu FAA memberikan informasi temuan tersebut kepada seluruh Otoritas Penerbangan Sipil Dunia (CAA) pada 27 September 2019.

Loading…

FAA menyarankan seluruh pesawat tipe B 737 NG untuk diperiksa. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi pada setiap pesawat B 737 NG yang saat ini dioperasikan termasuk maskapai di Indonesia.

Garuda Tunggu Respons Boeing
Sementara itu, satu pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 737 New Generation (NG) yang ditemukan mengalami keretakan telah operasionalnya.

VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan mengatakan saat ini tengah menunggu respons Boeing setelah berkoordinasi terkait satu pesawat yang dikenakan penghentian terbang tersebut.

“Kita sudah laporkan ke Boeing sama komunikasi terkait perbaikan selanjutnya,” kata Ikhsan yang dikutip Republika.co.id, Selasa (15/10/2019).

Ikhsan menjelaskan selain menunggu respons untuk langkah perbaikan, Garuda juga mengkoordinasikan hal lainnya dengan Boeing. Sebab, satu pesawat yang dikenakan penghentian terbang tersebut berpengaruh kepada operasional maskapai.

Dia menjelaskan salah satu yang dikoordinasikan yakni kompensasi dari Boeing. “Ada (koordinasi terkait kompensasi) Cuma belum ada kelanjutannya. Cuma memang itu jadi salah satu bagian yang kita lakukan,” ujar Ikhsan.

Ikhsan menjelaskan satu pesawat B 737 NG milik Garuda yang dikenakan penghentian terbang dilakukan per 5 Oktober 2019. Ikhsan menjelaskan hal tersebut menjadi hasil tindak lanjut dari implementasi DGCA Indonesia Airworthiness Directives (AD) nomor 19-10-003 dan FAA Airworthiness Directives Nomor 2019-20-02.

Dari laporan tersebut, lanjut Ikhsan, diminta semua maskapai memeriksa pesawat tipe Boeing 737 NG yang mencapai 30 ribu siklus penerbangan. “Kita dengan 30 ribu siklus terbang itu ada tiga pesawat karena pesawat kita yang lain masih muda,” tutur Ikhsan.

Dari tiga pesawat yang diperiksa tersebut, Ikhsan memastikan hanya satu yang ditemukan adanya keretakan. Setelah kepastian tersebut ditemukan, pesawat tidak lagi diterbangkan dan laporan pemeriksaan diberikan kepada Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan.[***]

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA