Ketua IDI: ‘Horror’ Pasien Melanggar Etika!

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulteng.com- Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulawesi Tengah, dr. H. Husaema, MM, M.Kes mengatakan bahwa dalam etika kedokteran, seorang dokter dilarang menakut-nakuti (horor) pasein, apalagi untuk tujuan komersil.

Hal tersebut dikatakannya saat menanggapi adanya dugaan bahwa dr Djemi Sp.OG telah melakukan perbuatan yang menakut-nakuti pasiennya yang benama Fatlun Paputungan (28) beberapa waktu lalu, agar dilakukan operasi sesar pada kandungannya.

Baca Juga:

Ditemui di kediamannya di Jalan Tolambu, Senin (15/6/2015), Husaema mengatakan, setiap dokter sudah disumpah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing. “Kalau sumpah itu dilanggar, dia sudah mengkhianati Tuhan-nya, Nurani-nya dan bisa merusak tatanan kedokteran,’ ujarnya kepada Jurnalsulteng.com yang datang bersama Ekobisnews.com dan Harian Palu Ekspres.

Meski demikian Husaema mengaku bukan ranahnya untuk menentukan apakah yang dilakukan dr. Djemi,Sp.OG melanggar etika atau tidak. “Yang berhak menentukan melanggar etika atau tidak hanya Majelis Etik Kedokteran,” katanya.

Advertisements

Saat itu juga, dr Husaema selaku Ketua IDI langsung menghubungi dr.Djemi melalui selulernya. Husaema mengatakan, dr,Djemi mengaku bahwa diagnoosa yang dilakukannya bahwa air ketuban sudah kering, bayi sudah lengket pada plasenta adalah persepsinya dalam membaca hasil USG.

Menurut Husaema, adanya perbedaan persepsi dalam membaca hasil USG memang bisa terjadi. Tetapi perlu diingat, yang paling berhak menentukan benar salahnya dalam membaca hasil USG adalah spesialis USG.

Advertisements

Namun Husaema tampak tercengang saat disampaikan bahwa hasil USG yang dilakukan dr.Djemi itulah yang juga dinyatakan bahwa tidak benar air ketuban (Ny) Fatlun sudah kering. Bahkan Husaema makin geli ketika diperlihatkan beberapa SMS dari staf dr. Djemi  yang mendesak pasein agar segera masuk RSB Care She.

Ia mengaku miris jika benar apa yang dilakukan dr. Djemi dengan tujuan komersil. Tetapi bukan kapasitasnya melakukan tindakan terhadap dugaan itu. Namun hal ini bisa mencoreng nama baik kedokteran.

Dalam kondisi apapun kata Husaema, seorang dokter harus memberikan semangat, bukan malah menakut-nakuti pasiennya.

“Dokter boleh berdagang, tapi jangan jadi pedagang. Kalau itu yang terjadi, maka merusak tatanan. Dokter harus mengedepankan nuraninya, bukan mengutamakan komersilnya. Semua orang mau uang, tapi bukan begitu caranya,” kata Husaema yang baru saja terpilih sebagai Sekretaris Umum Kerukunan Keluarga  Sulawesi Selatan (KKSS) ini.[***]

 

Wartawan/Editor; Sutrisno
  

Advertisements

 

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News