KPH Toili Baturube Kembangkan Wisata Mangrove Pandanwangi

  • Whatsapp
Kawasan wisata Mangrove Pandanwangi yang dikembangkan KPH Toili Baturube bersama KTH Pesona Mangrove Pandanwangi di Desa Pandanwangi, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai. [Dok/KPH Toili Baturube]
Bagikan Artikel Ini
  • 97
    Shares

Palu, JurnalNews.id – Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Toili Baturube, Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Pesona Mangrove Pandanwangi melakukan kemitraan pemanfaatan wisata mangrove sekira 9,26 hektar, di Desa Pandanwangi, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulteng.

Kepala KPH Toili Baturube, Nurudin mengatakan, kemitraan itu dilakukan untuk memanfaatkan hutan mangrove, sebagai salah satu destinasi wisata alam yang favorit dan edukatif.

Baca Juga

“Untuk menuju lokasi wisata mangrove Pandanwangi juga terbilang mudah dijangkau, karena berada di pinggir Jalan Trans Banggai – Morowali Utara,” kata Nurudin kepada JurnalNews.id, Sabtu (11/7/2020).

Menurut Nurudin, masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Banggai atau Morowali Utara dan sekitarnya, dapat mengunjungi wisata mangrove di Pandanwangi pada era new normal, setelah cukup lama tinggal di rumah aja akibat pemberlakukan social distancing karena adanya wabah Virus Corona.

Advertisements

Advertisements

“Di lokasi wisata Mangrove di Pandanwangi, pengunjung bisa menyaksikan hutan mangrove yang masih alami, pergerakan air payau yang bewarna biru dan hembusan udara yang sejuk, serta pemandangan alam yang indah,” tutur Nurudin setengah berpromosi.

Ia menyebutkan, untuk mendukung kenyamanan pengunjung, juga telah ada sarana di antaranya jalan tracking untuk melakukan penelusuran hutan mangrove, tempat untuk rapat/pertemuan, shelter untuk tempat duduk lesehan, resto yang menjual makan dan minum, tempat pemancingan ikan, toilet dan beberapa sarana lainnya.

“Dari sarana dan prasarana yang telah terbangun di lokasi Wisata Mangrove Pandanwangi, terlihat kesungguhan dan semangat kelompok tani hutan untuk mengelola wisata alam melalui skema kemitraan,” ujarnya.

Advertisements

Nurudin mengataan, kemitraan pemanfaatan wisata mangrove Pandanwangi disepakati melalui perjanjian yang ditandatangani Februari 2020, dengan jangka waktu selama 10 tahun dan dapat diperpanjang. Kemudian agar dapat berkelanjutan, kegiatan wisata mengacu pada rencana yang telah disusun oleh KTH Pesona Mangrove atas fasilitasi KPH Toili-Baturube.

Kegiatan wisata tersebut terdiri dari pengembangan kelembagaan dan pengembangan ekonomi. Pengembangan kelembagaan meliputi kegiatan penandaan batas, peningkatan kapasitas, penanaman mangrove, dan patroli pencegahan dan pengamanan areal.

“Sedangkan pengembangan ekonomi meliputi kegiatan pembangunan sarpras, pelayanan kunjungan dan kegiatan pementasan kesenian tradisional setempat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Nurudin menjelaskan, areal kemitraan wisata mangrove merupakan kawasan hutan lindung, sehingga hasil penjualan tiket dibagi kepada KPH Toili Baturube sebesar 20% dan kepada KTH Pesona Mangrove sebesar 80%. “Bagi hasil yang menjadi bagian KPH Toili Baturube merupakan sumber PAD Provinsi Sulteng,” jelasnya.

Kepala KPH Toili Baturube, Nurudin.

Skema kemitraan kehutanan kata Nurudin, merupakan implementasi dari Peraturan Daerah (Perda) Sulawesi Tengah Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Hutan di Wilayah KPH. Perda ini untuk memberi kepastian terhadap aspek legal formal, serta mengoptimalkan pemanfaatan hutan untuk tujuan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian hutan pada wilayah KPH di Provinsi Sulteng.

“Diharapkan semua pihak dapat berperan serta dalam pencapaian tujuan pemberdayaan masyarakat dan pelestarian hutan tersebut,” tutupnya. [***]

Advertisements

Editor: Sutrisno/*

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News