Kritik Permendikbud, Fadli Zon: Segera Revisi atau Cabut Saja

Tangkapan layar cuitan Fadli Zon terkait Permendikbud nomor 30 tahun 2021 tentang PPKS. | Twitter @fadlizon
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Permendikbud No 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi masih terus dikritik.

Politisi Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan Permendikbud tersebut maksudnya baik. Tetapi penyusunan peraturan itu menggunakan pendekatan liberal dan bukan Pancasila yang religius.

Baca Juga

“Permendikbud ini maksudnya baik, tapi pendekatannya liberal bukan Pancasilais yg relijius,” tulis Fadli Zon di twitter @fadlizon, Sabtu, 13 November 2021.

“Mungkin yg bikin kurang lama jd org Indonesia. Segera revisi atau cabut saja. Dengarkan ormas keagamaan yg sdh ada jauh sebelum Indonesia merdeka,” lanjutnya.

Organisasi keagamaan Muhammadiyah menyatakan sikap terhadap Permendikbud No 30 Tahun 2021 dicabut. Salah satu alasannya adalah adanya pasal yang dianggap bermakna legalisasi terhadap seks bebas di kampus.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) juga mengeritik Permendikbud PPKS karena dinilainya melegalkan seks bebas di kampus. Sementara PKS menilai Permendikbud PPKS cenderung mengarah pada nilai-nilai liberalisme.

Hasil ijtima Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat juga meminta mencabut atau merevisi Permendikbud PPKS. MUI menilai frasa “tanpa persetujuan korban” bertentangan dengan nilai syariat, Pancasila, UUD 1945, Peraturan perundang-undangan lainnya, dan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Kemendikbudristek menjawab kritikan-kritikan itu. Ada lima poin yang disampaikan antara lain bahwa Substansi Permen PPKS sejalan dengan tujuan pendidikan yang diatur dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.

Bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia.

Kekerasan seksual merupakan salah satu penghalang tercapainya tujuan pendidikan tersebut.***

Pos terkait

Google News