Kuota BBM Bersubsidi Jebol

Ilustrasi.
Bagikan Artikel Ini
  • 32
    Shares

Jakarta, JurnalNews.id – Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Fanshurullah Asa menyebut, data per 2019 Desember 2019 menunjukkan BBM bersubsidi jenis solar jebol atau over kuota sebanyak 1,28 juta kilo liter (KL). Sedangkan, premium diperkirakan jebol hingga 0,5 juta KL.

“Jadi kami mengusulkan direvisi supaya jangan sampai tahun 2020 jebol lagi kuota BBM subsidinya, karena kalau tadi sekarang aja 1,28 juta KL,” ucap Fanshurullah Asa, di kantor BPH Migas, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Senin (30/12/2019).

Baca Juga:

Dikutip dari iNews.id, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif angkat bicara soal jebolnya kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Masyarakat diminta turut mengawasi dan melaporkan adanya kecurangan dalam pemanfaatan BBM bersubsidi.

“Pertama adalah imbauan kepada masyarakat untuk turut mengawasi. Imbauan kepada para pelaku untuk cepat menyadari kemudian juga imbauan kepada para stakeholder di daerah untuk memberikan dukungan kepada pengawasan,” kata Arifin Tasrif di kantor BPH Migas, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, Senin (30/12/2019).

Loading…

Tidak hanya itu, kata Tasrif pemerintah akan melakukan digitalisasi atau pemanfaatan teknologi informasi (TI) pada nozzel, sehingga meminimalkan kecurangan dalam pengisian bahan bakar. Pemerintah menargetkan digitalisasi di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia rampung pada tahun depan.

“Kita bisa menerapkan sistem pengawasan yang berdasarkan kepada elektronik base teknologi. Kita memasang digitalisasi nozzel ini sudah dilakukan setahun dan harapanya di tahun 2020 bisa diselesaikan semuanya,” ucapnya.

Sebagai informasi, pemerintah menetapkan kuota jenis BBM tertentu (JBT) atau BBM bersubsidi 2020 sebanyak 15,87 juta KL. Jumlah tersebut terdiri dari minyak solar 15,31 juta KL, minyak tanah 0,56 juta KL.

BPH Migas mencatat kuota JBT dan BBM bersubsidi tersebut mengalami kenaikan 5,03 persen dibandingkan dengan kuota tahun 2019 yang hanya 15,11 juta KL. Selama 2019, Jawa Timur menduduki puncak sebagai provinsi dengan penyerapan solar paling tinggi sebanyak 2.371.004 KL, sementara premium 1.444.315 KL. Kemudian, disusul provinsi Jawa Barat penyerapan solar sebesar 2.046.839 KL dan premium 1.109.281 KL. [***]

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA