Lempeng Tektonik Raksasa di Samudra Hindia Terbelah Jadi Dua

  • Whatsapp
Studi baru menemukan lempeng tektonik di Samudra Hindia terbelah menjadi dua. [Planet Observer via LiveScience]
Bagikan Artikel Ini
  • 328
    Shares

JurnalNews.id – Studi baru-baru ini menemukan lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia secara geologis terbelah menjadi dua.

Namun, lempeng yang dikenal sebagai lempeng tektonik India-Australia-Capricorn, terbelah dengan kecepatan sangat lambat sekitar 0,06 inci (1,7 milimeter) per tahun.

Baca Juga

Dengan demikian, dalam waktu 1 juta tahun, dua lempeng akan menjauh dengan jarak sekitar 1,7 kilometer.

“Ini bukan struktur yang bergerak cepat, tetapi masih signifikan dibandingkan dengan batas-batas planet lain,” kata rekan peneliti studi Aurélie Coudurier-Curveur, seorang peneliti senior geosains laut di Institut Fisika Bumi Paris, Perancis, sebagaimana dikutip dari LiveScience via Pikiran-Rakyat.com

Sebagai contoh, sesar Laut Mati di Timur Tengah bergerak sekitar 0,2 inci (0,4 cm) per tahun sedangkan Sesar San Andreas di California bergerak sekitar 0,7 inci (1,8 cm) per tahun.

Peta yang menunjukkan Wharton Basin, tempat gempa berkekuatan 8,6 dan 8,2 pada tahun 2012 (titik merah dan putih). [Planet Observer via LiveScience]

Mengenai pergerakan lempeng tersebut, peneliti menemukan dua petunjuk yaitu dua gempa yang berasal dari tempat aneh di Samudra Hindia yang menunjukkan kekuatan yang mengubah lempeng Bumi.

Pada 11 April 2012, gempa berkekuatan 8,6 dan 8,2 melanda di bawah Samudera Hindia, dekat Indonesia. Gempa bumi tidak terjadi di sepanjang zona subduksi, di mana satu lempeng tektonik meluncur di bawah yang lain.

Sebaliknya, gempa ini berasal dari tempat yang aneh terjadi di tengah lempeng.

Gempa bumi serta petunjuk geologis lainnya, menunjukkan bahwa beberapa jenis deformasi (perubahan) yang terjadi jauh di bawah tanah, di daerah yang dikenal sebagai Cekungan Wharton.

Deformasi ini tidak sepenuhnya tak terduga di lempeng India-Australia-Capricorn karena bukan satu kesatuan yang kohesif.

“Ini seperti teka-teki. Ini bukan satu piringan lempeng yang seragam. Ada tiga piringan yang, kurang lebih, diikat bersama dan bergerak dalam arah yang sama,” kata Coudurier-Curveur.

Diduga kuat, lempeng tektonik raksasa di bawah Samudra Hindia yang disebut pecah ini karena terjadi kesalahan strike-slip yang sama seperti di San Andreas Fault. Kesalahan semacam ini membuat dua blok Bumi saling bergeser secara horizontal.

Menurut Coudurier-Curveur perpecahan lempeng ini terjadi karena bagian-bagian berbeda dari India-Australia-Capricorn bergerak dengan kecepatan yang berbeda.

Dia juga mengatakan zona perpecahan ini dulunya hanya celah pasif, menjadi batas baru bagi piringant yang terbelah menjadi dua bagian.

Namun, peneliti menyebut karena perpecahan India-Australia-Capricorn terjadi sangat lambat, gempa kuat lainnya di sepanjang patahan khusus ini kemungkinan tidak akan terjadi selama 20.000 tahun lagi.

Studi ini dipublikasikan secara online pada 11 Maret 2020 di jurnal Geophysical Research Letters dengan judul Is There a Nascent Plate Boundary in the Northern Indian Ocean? [***]

Sumber: LiveScience

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News