Limbah Medis Diduga Milik RSUD Ampana Berserakan di TPA

Limbah medis yang diduga milik RSUD Ampana berserakan di TPA Sampah Desa Keke Morowo, Kecamatan Ulubongka, Tojo Unauna. [Jef]
Bagikan Artikel Ini
  • 108
    Shares

Tojo Unauna, JurnalNews.id – Berbagai jenis limbah medis yang masuk kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), hingga kini masih berserakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, di Desa Keke Marowo, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Unauna, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Diduga, limbah medis B3 tersebut milik RSUD Ampana, yang pembuangannya dilakukan oknum yang tdak bertanggungjawab.

Baca Juga:

Pantauan JurnalNews di TPA Keke, berbagai jenis limbah yang berserkan diantaranya botol bekas cairan Infus, jarum suntik bekas, bekas kantung darah, kain kasa, kapas, dan botol-botol obat jenis injeksi.

Padahal, limbah medis harusnya ditangani secara khusus sebagaimana diatur dalam UU Lingkungan Hidup dan Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 56 tahun 2015 tentang tata cara dan persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3. Karena limbah medis masuk kategori yang membahayakan bagi lingkungan hidup, kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya.

Parahnya lagi, TPA yang menjadi lokasi pembuangan limbah medis tersebut hanya berjarak sekira 500 meter dari Jalan Trans Sulawesi, di Kabupaten Tojo Unauna.

Menurut warga sekitar, pembuangan sampah yang di dalamnya bercampur dengan limbah medis tersebut rutin dilakukan.

“Coba saja dicek setiap mobil kebersihan kota menurunkan sampah, pasti di dalamnya bercampur dengan limbah medis,” ucap warga sekitar yang enggan disebut namanya.

Ruang penyimpanan sementara limbah medis di RSUD Ampana. [Jef]

Sementara di lokasi terpisah, saat JurnalNews melakukan penelusuran di tempat penampungan sementara limbah medis di RSUD Ampana, terlihat ruang penyimpanan dalam keadaan terkunci. Ruang penampungan sementara tersebut merupakan bekas kamar jenazah, yang dialihfungsikan menjadi penampungan limbah medis.

Namun parahnya, di depan ruangan tersebut terdapat tong sampah yang di dalamnya justeru berisi berbagai jenis limbah medis, diantaranya botol bekas obat injeksi, botol bekas infus dan kain kasa bekas. Karena menimbulkan aroma yang menyengat, area tersebut pun dikerubuti lalat.

Tong sampah yang terdapat di depan ruang penyimpanan sementara limbah medis di RDUD Ampana. [Jef]

Lebih ironis lagi, sekira tiga meter dari tong sampah tersebut juga berceceran limbah medis lainnya berupa botol bekas obat injeksi yang digunakan untuk suntikan.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur RSUD Ampana dr. Niko mengaku pihaknya sudah bekerja sama dengan PT Tenang Jaya Sejahtera, sebagai pihak ke tiga yang menangani limbah medis RSUD Ampana.

Menurut dr Niko, pihaknya tidak menyangkal tapi juga tidak meng-iyakan tentang hal tersebut. Alasannya, bukan hanya RSUD Ampana yang menghasulkan limbah medis di wilayah tersebut.

Loading…

“Saya tidak menyangkal dan tidak juga meng-iyakan. Karena bukan hanya RSUD yang menghasilkan limbah medis. Ada Puskesmas di situ, ada juga pasien yang rawat inap,” kata dr Niko saat ditemui JurnalNews.id, pada Kamis (14/11/2019).

Andaikan limbah medis tersebut dari RSUD Ampana tambah Niko, yang perlu diketahui tidak ada unsur kesengajaan RSUD Ampana untk membuang limbah medis B3 di TPA.

“Yang perlu kami tingkatkan adalah perilaku perawat pengahasil limbah medis tersebut,” katanya.

“Yang pertama pegawai rumah sakit tanpa sengaja membuang atau menyimpan di tempat yang berbeda. Kedua mungkin saja ada kesalahan petugas Cleaning Service, saat memilah pembuangan limbah dari karakter yang sudah disediakan tempatnya,” tambahnya beralibi.

Sisi lain di TPA Keke Marowo yang terdapat limbah medis berupa selang infus dan botol-botol bekas obat-obatan injeksi. [Jef]

Seperti diketahui, limbah medis sendiri adalah segala jenis sampah yang mengandung bahan infeksius (atau bahan yang berpotensi infeksius). Biasanya berasal dari fasilitas kesehatan seperti tempat praktik dokter, rumah sakit, praktik gigi, laboratorium, fasilitas penelitian medis, dan klinik hewan.

Dikutip dari Tirto.id, berikut ini kategori limbah medis yang paling umum sebagaimana diidentifikasi oleh WHO:

Benda tajam. Limbah jenis ini meliputi segala sesuatu yang dapat menembus kulit, termasuk jarum, pisau bedah, pecahan kaca, pisau cukur, ampul, staples, dan kabel.

Limbah Menular. Apa pun yang menular atau berpotensi menular masuk dalam kategori ini, termasuk tisu, tinja, peralatan, dan kultur laboratorium.

Radioaktif. Limbah jenis ini umumnya cairan radioterapi yang tidak digunakan atau cairan penelitian laboratorium. Itu juga dapat terdiri dari gelas atau persediaan lain yang terkontaminasi dengan cairan ini.

Patologi. Cairan manusia, jaringan, darah, bagian tubuh, cairan tubuh, dan bangkai hewan yang terkontaminasi masuk dalam kategori limbah ini.

Obat-obatan. Pengelompokan ini mencakup semua vaksin dan obat yang tidak digunakan, kedaluwarsa, dan / atau terkontaminasi, seperti antibiotik, injeksi, dan pil.

Bahan kimia. Termasuk desinfektan, pelarut yang digunakan untuk keperluan laboratorium, baterai, dan logam berat dari peralatan medis seperti merkuri dari termometer yang rusak.

Limbah Genotoksik. Ini adalah bentuk limbah medis yang sangat berbahaya yang bersifat karsinogenik, teratogenik, atau mutagenik. Ini dapat termasuk obat sitotoksik yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengobatan kanker.

Sementara, orang-orang yang memiliki risiko tinggi tercemar limbah medis tentu saja petugas kesehatan, pasien, petugas pengumpulan dan pembuangan limbah, serta lingkungan sekitar. Limbah medis dapat menimbulkan bahaya jika dikelola secara tidak benar. [***]

Penulis; Jefri Yanto
Editor; Sutrisno

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA