Mantan Napiter Poso: Waspadai Propaganda Radikalisme di Dunia Maya

  • Whatsapp
[Ilustrasi]
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan datangnya selalu di belakang hari. Itulah potongan kata bijak untuk mengingatkan kita agar memperhitungkan sebelum mengambil tindakan.

Seperti yang dialami mantan narapidana terorisme (Napiter) Poso berinisial MS, yang sempat terpengaruh propaganda di dunia maya, hingga membuatnya terjerumus dalam kelompok radikal.

Baca Juga

Apalagi pengetahuan agamanya masih relatif dangkal sehingga tanpa pikir panjang langsung tertarik dengan narasi yang sebenarnya jauh dari ajaran agama. Akhirnya bukan kebahagiaan yang di dapat, namun jeruji penjara di Nusakambangan yang dirasakannya.

MS yang merupakan mantan anggota teroris yang beraksi di Poso ini, sekarang telah insyaf dan menyadari akan segala perbuatannya. Baginya, rencana aksi teroris yang pernah ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar dalam memahami arti jihad yang sesungguhnya.

Saat ini MS belum mendapat pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ybs berharap agar seluruh masy bisa menerimanya kembali untuk bersosialisasi di masyarakat seperti sediakala.

Bahwa Eks Napiter inisial MS, sebelumnya ditangkap pada tahun 2014 di wilayah Kabupaten Poso, karena terlibat dalam beberapa kasus teroeisme. Kemudian Pada tahun 2018 telah ia telah selesai menjalani masa pidananya.

Harapan MS setelah bebas, bisa kembali kemasyarakat memulai kehidupan normal serta bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Menurut MS, salah satu upaya mengatasi pemahaman radikalisme di Kabupaten Poso dan Kota Palu khususnya kepada kelompok eks Napi kasus terorisme, perlu kiranya pemerintah melakukan pengawasan dan koordinasi serta terus membangun silahturahmi antara kelompok eks napi teroris dengan aparat kepolisian dan Pemerintah setempat.

MS juga menghimbau kepada masyarakat khususnya generasi muda di Kabupaten Poso dan Kota Palu, untuk tidak mudah terpengaruh dan terhasut, baik melalui kajian-kajian keagamaan serta melalui pemberitaan di sosial media (Sosmed) terkait penyebaran paham radikalisme.

“Untuk menangkal isyu serta berita-berita hoax, sangat di perlukan pula peran serta pengawasan dari orang tua, khususnya penggunaan Sosmed yang saat ini cenderung memberikan informasi bohong dan sesat,” cetusnya kepada Kasubdit IV Intelkam Polda Sulteng.

Kepada Pemerintah Daerah dan Aparat Keamanan di Sulteng, MS berharap tetap komit dan konsiten utamanya dalam memberikan perhatian kepada mantan Napiter dan keluarganya, agar mereka tidak kembali dan bergabung dengan kelompok-kelompok radikal.

“Saya sangat berterima kasih kepada aparat keamanan dan Pemda, yang selama ini telah membantu dan memberikan bimbingan, sehingga pemikiran tentang radikalisme sedikit demi sedikit bisa hilang,” pungkasnya. ***

Berita Terkait

Google News