Mantan Napiter: Sebaiknya Jihad Melalui Pendidikan Bukan Kekerasan

Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Aksi-aksi terorisme yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah ini, khususnya di wilayah Kabupaten Poso dan Kota Palu, merupakan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Islam tidak mengajarkan orang untuk berbuat kerusakan dan menciptakan teror di atas muka bumi. Kedatangan nabi dengan risalah Islam adalah untuk kerahmatan dan kedamaian bagi alam semesta.

Baca Juga

Salah satu mantan narapidana kasus teroris (Napiter) di Sulteng berinisial NK mengatakan, sejak isu terorisme muncul, ada kesalahpahaman terhadap konsep jihad. “Ini disebabkan penyempitan dan penyelewengan arti dan makna kata tersebut,” kata NK di Palu, Jumat (27/7/2018).

Bahkan mantan anggota Jama’ah Islamiah (JI) yang kini telah sadar dan bertaubat ini, kepada Kasubdit IV Intelkam Polda Sulteng Kompol Safruddin ia mengakui, bahwa apa yang pernah dilakukan sebelumnya adalah sebuah kekeliuran dan kesalapahaman dalam memahami arti dari jihad yang sesungguhnya.

Jika ingin berjihad kata NK, sebaiknya melalui pendidikan bukan dengan kekerasan, karena hal tersebut tidak memberikan manfaat tetapi kerusakan bagi kemaslahatan umat.

Makanya ia sangat mengecam aksi-aksi teroris serta paham-paham radikalisme termasuk aksi-aksi kelompok Ali Kalora di Wilayah Kabupaten Poso.

Saat ini ia fokus mengajarkan anak-anak dan remaja melalui pendidikan agama seperti mengaji dan baca tulis Alqur’an.

Dulunya kata NK, ia tidak tidak pernah berfikir nasib korban. “Saat bertemu pak Safruddin, saya merasa sedih dan menyesal. Penyesalan terbesar saya adalah bagaimana keluarga menanggung efek dari perbuatan saya,” ujarnya.

Saat ini kata NK, ia sadar dan menyesal karena ternyata membunuh orang tidak bersalah adalah kesahalan besar, yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

“Saya berharap kepada saudara-saudaraku yang lain untuk kembali ke jalan yang benar, dengan mengedepankan rasa toleransi dan kemanusiaan,” tandas NK. [***]

 

Penulis; Agus Manggona
Editor; Sutrisno

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News