Mantan TKI Jadi Pembicara Konvensi Partai Demokrat AS

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini
Ima Matul Maisaroh TKW korban perdagangan manusia di AS bersama Presiden Obama. (Merdeka.com)

Jurnalsulteng.com – Ima Matul Maisaroh, mantan buruh migran asal Indonesia, menjadi salah satu pembicara Konvensi Nasional Partai Demokrat, di Kota Pennsylvania, Amerika Serikat. Dia diminta membicarakan pengalaman serta upaya melawan perdagangan manusia. Konvensi itu dihadiri ribuan orang, agendanya memilih calon presiden dukungan partai, dalam hal ini hampir pasti Hillary Clinton.

Ima adalah mantan buruh migran yang merantau ke Negeri Paman sam dari Desa Gondanglegi, Malang, Jawa Timur. Ima dijadwalkan mengisi panggung utama Stadion Fargo yang menjadi arena kongres pada Selasa (26/7/2016) besok, seperti dilansir situs Indonesian Lantern.

Baca Juga:

Sejak 2012, Ima ditunjuk Presiden Barack Obama menjadi salah satu anggota Gugus Tugas Pemberantasan Perdagangan Manusia (PITF). Karenanya pidato nanti akan mencakup pula kapasitasnya sebagai penasehat presiden AS.

“Selain menyampaikan pidato mengenai pengalaman saya sebagai korban perbudakan manusia, saya juga menyampaikan program-program penanggulangan perbudakan dan perdagangan manusia yang telah dilakukan Hillary Clinton, kata Ima.

Advertisements

Ima bukan satu-satunya buruh migran asal Indonesia yang bergabung dengan PITF. Shandra Woworuntu juga dipilih Presiden Obama untuk melawan praktik perdagangan manusia. Mereka berdua adalah aktivis Koalisi Lawan Perbudakan dan Perdagangan Manusia (CAST), mewakili korban yang berhasil selamat dari perbudakan.

Perdagangan manusia cukup marak di AS. Korbannya kebanyakan dari negara berkembang di Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Data dari PITF menyatakan 40 ribu hingga 45 ribu orang mengalami perbudakan serta trafficking di AS.

Perempuan 33 tahun ini terbujuk berangkat ke AS pada 1997. Saat itu Ima hanya ingin pergi dari rumah karena selalu disiksa oleh sang suami. Pria kenalannya menawari kesempatan kerja di Kota Los Angeles sebagai pembantu rumah tangga, tanpa membutuhkan biaya awal sepeserpun.

Advertisements

“Mereka mengurus semua keperluan kami. Paspor, visa, tiket, mereka menjanjikan gaji USD 150 per bulan dan sehari libur dalam sepekan,” kata Ima.

Setibanya di AS, Ima memang menjadi pembantu rumah tangga, namun pekerjaan itu sudah masuk kategori perbudakan. Dia bekerja 18 jam sehari bahkan lebih, tak pernah punya libur akhir pekan. Majikan Ima memaksanya membersihkan rumah, mencuci, merapikan taman, hingga mencuci mobil.

Setelah tiga tahun, Ima akhirnya memberanikan diri untuk kabur. Dia menulis surat ke wanita yang bekerja di seberang rumah, juga sesama pembantu rumah tangga.

Dengan komunikasi terbatas lewat surat, akhirnya wanita yang ada di depan rumah sanggup menolong Ima dan membawanya jauh dari rumah majikan

Ima dibawa ke kantor CAST di Los Angeles. Di tempat itu, dia dirawat dan diajari bahasa Inggris serta keterampilan lainnya. Dia juga belajar komputer. Pada 2005, Ima bergabung sebagai aktivis lembaga CAST. Dia menjadi korban yang berhasil selamat dan kini berkampanye melawan perbudakan serta perdagangan manusia.(***)


Source; Merdeka

Advertisements
Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News