Masa Tanggap Darurat Gempa Maluku Diperpanjang Sampai 2020

Kondisi bangunan rumah yang rusak akibat gempa magnitudo 6,5 di Ambon, Maluku, Kamis (27/9/2019). BNPB menyebut korban meninggal Ambon bertambah jadi 36 orang. [BNPB]
Bagikan Artikel Ini

Ambon, JurnalNews.id – Penetapan massa tanggap darurat di Provinsi Maluku termasuk Kota Ambon diperpanjang dari 10 Oktober 2019 hingga 10 Januari 2020 setelah gempa magnitudo 6,8 mengguncang kota tersebut, 26 September 2019.

Perpanjangan massa tanggap darurat dilakukan lantaran penanganan dan pelayanan pasca gempa belum tuntas.

Baca Juga

“Diperpanjang karena layanannya belum selesai. Jadi kalau masa daruratnya belum selesai masih banyak pengungsi dan sebagainya. Jadi mereka merasa ini masih darurat jadi diperpanjang,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo melalui sambungan telepon pada Rabu (16/10/2019).

Dilansir dari CNNIndonesia.com, perpanjangan masa tanggap darurat berlaku di hampir semua wilayah Provinsi Maluku secara keseluruhan, yakni sejak 1 Oktober 2019 hingga 10 Januari 2020.

Untuk yang Seram Bagian Barat sampai hari ini. Tapi saya belum tahu, mungkin diperpanjang juga. Maluku Tengah juga saya kira diperpanjang karena layanannya belum pulih semua,” kata Agus.

Loading…

Terdapat sejumlah kendala yang masih ditemukan dalam penanganan dan layanan pasca gempa di Maluku. Beberapa di antaranya karena pengungsi tidak berapa pada satu titik, namun menyebar di berbagai lokasi. Data terbaru BNPB per tanggal 14 Oktober mencatat 148.619 ribu orang masih mengungsi akibat gempa.

Terputusnya sarana dan prasarana yang mendistribusikan air jadi kendala tersendiri. Akses jalan dan jembatan juga banyak yang terputus, sehingga mempengaruhi pasokan BBM ke Kabupaten Seram Bagian Barat.

Perbaikan infrastruktur umum seperti jalan dan jembatan terus dilakukan. Menurut Agus perbaikan yang dilakukan sekarang belum ke arah permanen.

“Perbaikan infrastruktur yang rusak-rusak khususnya yang darurat, infrastruktur jalan, jembatan. Yang perbaikannya bukan permanen tapi supaya berfungsi dulu,” ujarnya.

Selain kendala terhadap jalur transportasi darat, kendala pada keterbatasan transportasi laut juga menghambat pendistribusian bantuan ke Kabupaten Seram Bagian Barat.

Untuk Kabupaten Maluku Tengah kendala dalam penanggulangan dampak gempa ada pada hambatan jalur komunikasi.

Terkait angka korban, catatan terbaru BNPB mencatat korban tewas bertambah menjadi 41 orang. Sedangkan korban luka mencapai 1.602 orang.

Adapun angka kerugian materil rinciannya sebesar 6.355 unit rumah rusak dan 489 fasilitas umum rusak. [***]

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA