Masykur: Jangan Biarkan Pemerintah Desa Jalan Sendiri

Muh. Masykur.
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Sejak Dana Desa dikucurkan secara perdana tahun 2015, sebagai babakan baru negara mendistribusikan anggaran untuk pembangunan ke masyarakat di wilayah pedesaan. Baru di era pemerintahan saat ini, negara memberi kewenangan kepada pemerintah desa mengelola anggaran secara mandiri melalui dana desa, sesuai amanah Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Jika ditilik, sejak dana desa dikelola oleh Pemerintah Desa di Sulawesi Tengah nampak banyak hal capaian yang telah dihasilkan, terutama di bidang infrastruktur pedesaan, seperti prasarana jalan, saluran irigasi dan air bersih dan lainnya termasuk operasional pemerintah desa. Namun dibalik “berkah” dana desa, seolah terselip “petaka” yang bisa saja mendera aparat pemerintah desa, kapan saja dan dimana saja.

Baca Juga

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Tengah, Muh. Masykur menyampaikan memang ada soal yang hari ini sedang melilit pemerintah desa di Sulawesi Tengah. Terutama soal konsistensi antara perencanaan, implementasi dan realisasi program pembangunan. Plus ribetnya teknis pertanggungjawaban penggunaan dana desa.

Soal tersebut jika diabaikan dan lamban diantisipasi maka akan menjadi “petaka” bagi pemerintahan desa, kaitannya dengan trust warga masyarakat terhadap tata kelola pemerintahan desa.

Sementara ekspektasi dan harapan publik terhadap pengelolaan program dana desa terbilang tinggi atas jawaban aneka soal di desa. Jika ditaksir, setiap tahun sekira Rp2 triliun dana desa dikucurkan ke 2.000 desa di wilayah pedesaan Sulteng.

Secara nasional alokasi dana desa disalurkan tahun 2015 sebesar Rp20,76 triliun, lalu meningkat di 2016 menjadi Rp46,98 triliun, 2017 sebesar Rp60 triliun. Di tahun 2018 sebesar Rp60 triliun dan tahun 2019 maksimal sebesar Rp85 triliun.

“Permasalahannya disoal ruang kendali tata kelola pemerintahan, terutama di sistem perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban program realisasi pemanfaatan dana desa,” jelas Masykur.

Menurut Masykur, soal ruang kendali itulah yang saat ini seperti menemui jalan buntu, sehingga berefect ke soal banyaknya aparat pemerintah desa terjerat kasus hukum.

Bahkan beberapa kasus kepala desa diproses secara hukum karena dijerat dalam kasus penyalahgunaan wewenang dan korupsi dana desa, di Kab. Tolitoli, Parigimoutong, Morowali Utara, Sigi, Donggala, dan Buol. Bisa jadi kasus serupa juga terjadi di Kabupaten lain.

Di Kabupaten Buol misalnya, dari informasi yang berkembang, dari 113 Desa di Kabupaten ini, separuh lebih Kepala Desanya disinyalir akan tersangkut masalah hukum. Sekitar 76 Desa dinilai tidak maksimal memanfaatkan penggunaan dana desa sesuai peruntukannya. Sehingga di sasar oleh aparat penegak hukum.

Nah jika benar seperti itu kondisinya maka itu artinya ada saluran sistem yang buntu. Padahal di semua tingkatan pemerintahan, ada kementerian desa, ada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPPMD) Provinsi dan kabupaten, plus program pendampingan inheren di dalamnya.

“Saya yakin semua upaya sudah dilakukan dalam rangka gerakan sukses dana desa. Tetapi bisa jadi kekurangan dari semua itu tidak lantas serta merta ditimpakan seluruhnya kepada aparat pemerintah desa. Sebab, dukungan sumberdaya tidak seluruhnya dicurahkan dalam rangka penyelamatan jalannya program pembangunan pemerintahan desa, sebagaimana tertuang dalam APBDes,” ujarnya.

Masykur berharap dalam rangka penyelamatan pemerintahan desa sebagai pilar pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan warga masyarakat, hendaknya Pemerintah Provinsi segera melakukan langkah integrasi bersama dengan Pemda Kabupaten melalui gugus tugas bersama. Tujuannya agar semua pihak turut andil dan berpartisipasi dalam monitoring pelaksanaan dana desa.

“Jangan biarkan aparat pemerintah desa berjalan sendiri”, tutup Masykur. [***]

Penulis; A. Yudhistira/*

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News