Media Asing Soroti Kasus Pembunuhan Perempuan Muda di Sulsel

  • Whatsapp
Judul artikel di media The Sun. [Screenshot]
Bagikan Artikel Ini
  • 55
    Shares

 

JurnalNews.id – Kasus pembunuhan perempuan muda di Sulawesi Selatan (Sulsel) jadi pembicaraan media-media mancanegara. Mereka menyoroti motif pembunuhan yang didasari perasaan malu atau aib keluarga.

Baca Juga

Rosmini binti Darwis ditemukan tewas di dalam rumahnya Kabupaten Bentaeng, Sabtu (9/5/2020) lalu. Polisi mengamankan 14 orang diantaranya ayah, ibu, saudara dan ipar serta tiga lainnya kerabat korban.

Di depan polisi, dua kakak kandung Rosmini mengaku tega menghabisi nyawa adiknya dengan memukul kepalanya pakai balok kayu. Pembunuhan tersebut juga ‘diizinkan’ oleh kedua orang tua korban. Para pelaku tega menganiaya adik perempuannya itu karena malu dengan hubungan gelap korban dengan sepupunya.

“Dari hasil olah TKP, korban meninggal dengan cara dipukuli kayu dan dibacok dengan golok,” kata Kapolres Bantaeng, AKBP Wawan Sumantri.

Pembunuhan anggota keluarga tersebut menyebar luas sampai keluar Indonesia. Media Inggris, The Sun mengulas insiden tersebut dengan judul “Perempuan 16 tahun dianiaya sampai tewas oleh dua saudara lelakinya setelah mengaku berselingkuh dengan saudara dekatnya berusia 45 tahun.”

Advertisements

Dalam tulisannya, The Sun juga mengutip pernyataan Kapolres Bentaeng bahwa motif pembunuhan karena apa yang dilakukan Rosmini sebagai aib keluarga.

“Terduga pelaku mengatakan bahwa mereka sangat marah saat adik mereka mengakui pernah berhubungan seks dengan pria saudara dekatnya.”

“Ini kasus pembunuhan karena aib.”

South China Morning Post juga mengangkat kasus pembunuhan tersebut tanggal 31 Mei 2020. Dalam ulasannya, mereka lebih menekankan temuan kecenderungan perilaku brutal tersebut sebagai hal lumrah untuk membela kehormatan keluarga di sejumlah negara Asia.

“Pembunuhan karena aib adalah fenomena umum di Timur Tengah dan Asia Selatan, dimana perempuan dibunuh jika mereka membuat malu keluarga,” demikian tulisan tersebut.

Akan tetapi, masih dalam ulasan yang sama, South China Morning Post menyebut kasus pembunuhan tersebut sangat jarang sekali ditemukan di kawasan Asia Tenggara.

Berbeda dengan negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah yang masih menganut ajaran islam konservatif, negara islam di Asia Tenggara dinilai lebih mengedepankan modernitas dalam pemikiran, termasuk hak hidup.

“PBB memperkirakan sebanyak 5 ribu perempuan dan anak-anak di seluruh dunia jadi korban tewas pembunuhan tersebut tiap tahunnya. Tetapi, jarang sekali terdengar dari kawasan Asia Tenggara,” lanjut isi tulisan. [***]

Sumber: iNews

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News