Menakar Strategi dan Kekuatan Politik Pilgub Sulteng 2020

  • Whatsapp
[Ilustrasi]
Bagikan Artikel Ini

HAJATAN Demokrasi lima tahunan tinggal menunggu waktu, periode ketegangan berebut kursi panas pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tengah (Sulteng), pasca Longki Djanggola yang akan digelar pada September 2020.

Inilah saatnya menguji kematangan dalam berdemokrasi. Sosok petarung dan yang layak bertarung kini semakin mencuat ke permukaan. Digiring melalui sederetan opini dan wacana. Siapakah mereka? calon penunggang tahta tertinggi di Bumi Sulteng.

Baca Juga

Berkaca dari Pilkada-Pilkada sebelumnya, gemuruh politik di daerah ini, sukses menghadirkan babak baru. Masyarakat diberikan keleluasan untuk menentukan pilihan politiknya.

Pemilik hak kosntitusi kini berdaulat atas politik daerah, selaku pemegang tumpuan penting memilih kesejehteraan melalui tangan pemimpin yang dipilihnya di balik bilik suara.

Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana “panasnya” arena pertarungan Pilgub Sulteng sebelumnya.

Meski demikian, harus diakui bahwa Longki Djanggola telah menorehkan sejarah baru dua periode memimpin daerah ini.

Tak terasa tahun berganti tahun dan sebentar lagi pertaruhan politik kembali tersaji melalui dinamika politik yang sangat cair.

Sejumlah nama dari tokoh-tokoh Sulteng yang memiliki keunggulan tidak sedikit, bermunculan mewarnai arena pertarungan. Sebut saja H Ahmad H Ali, Hidayat Lamakarate, Nurmawati Dewi Bantilan, Anwar Hafid, Sri Indraningsih Lalusu serta Sigit Purnomo Said (Pasha).

Belakangan muncul nama pasangan koalisi Gerindra-PKS Supratman Andi Agtas dan Salim Segaf Aljufri mantan Menteri Sosial RI.

Mencermati realitas perpolitikan saat ini, tentu saja memberi kesan bahwa kerja-kerja kandidat tidak hanya sekadar memberi janji kesejahteraan bagi masyarakat, tetapi harus aktif secara kompetitif menarik perhatian partai-partai politik melalui keterhubungan visi dengan parpol pengusung serta komitmen politik yang sudah terbangun dari pusat hingga ke daerah.

Dalam konteks perpolitikan di Sulteng tidaklah mudah, karena perlu memahami geopolitik. Sebab, faktor ini akan sangat menentukan dalam mengukur batas-batas kekuatan masing-masing kandidat.

Jika menelisik aspek geopolitik dalam ranah Pilgub Sulteng, sepenuhnya tidak bisa dilepaskan dari hubungan keterikatan masyarakat dengan wilayahnya masing-masing. Apalagi sejarah politik Sulteng mencatat, persoalan geopolitik merupakan isu yang cukup seksi guna mendulang pundi-pundi suara. Bahkan narasi seputar isu geopolitik, populer diperbincangkan di setiap sudut wilayah Sulteng, termasuk di warung-warung kopi (Warkop).

Meski demikian identitas geopolitik bukanlah satu-satunya faktor berpengaruh dalam politik Sulteng. Memahami dan menjelaskan fenomena demokrasi dan perpolitikan kini rasanya tidak mungkin dilakukan tanpa dengan memahami budaya dan relasi-relasi sosial yang sebenarnya sudah lebih dulu hadir di kalangan masyarakat Sulteng.

Dari sekian kandidat yang mencuat, nama Bendahara DPP Partai Nasdem, H Ahmad H Ali, digadang-gadang memiliki kans terkuat. Selain kantongi investasi politik dengan 7 kursi di DPRD Sulteng, ia juga ditopang dengan dukungan elektoral hasil Pileg 2019. Belum lagi kekuatan finansial yang akan memberikan jalan mulus bagi anggota DPR-RI ini merebut kursi 01 Sulteng.

Secara geopoitik, H Ahmad Ali diprediksi memiliki basis kuat di wilayah Kabupaten Morowali, Morowali Utara serta Parigi Moutong. Namun Anwar Hafid pun yang nota bene putra Desa Wosu, praktis menempatkan dirinya sebagai unggulan teratas di Morowali dan Morowali Utara.

Indikatornya jelas, Ketua DPD Partai Demokrat Sulteng ini dua periode memimpin Kabupaten “Gemuruh” Morowali. Bahkan Anwar Hafid juga lolos ke Senayan (DPR-RI) dalam Pileg 2019.

Sementara, Hidayat Lamarate yang lahir dari rahim birokrasi diprediksi akan menjadi kompetitor terberat. Selain mendapat dukungan dari kalangan birokrasi, salah satu basis dukungan terkuatnya berasal dari Kabupaten Banggai Laut (Balut), sebab Hidayat pernah menjabat PLT Bupati Balut, serta mendapat dukungan dari Kabupaten Sigi, Donggala dan Kota Palu.
Lihat Juga: Longki Beri Sinyal Hidayat Lamakarate Gubernur 2020

Namun yang akan menjadi kendala bagi Hidayat, masalah dukungan partai. Jika memang “tinta emas” Prabowo Subianto dipercayakan untuk dirinya serta bisa mendapat dukungan partai lain, maka diprediksi hajatan politik ke depan akan berlangung sengit. Tinggal tergantung siapa yang akan menjadi pasangannya.

Sementara Sri Lalusu, Nurmawati Bantilan serta Sigit Purnomo Said, diyakini hanya akan menjadi 02. Tinggal siapa dari kandidat Gubernur yang akan melamar atau “mempersunting”.

Yang menarik, mencuatnya nama pasangan Supratman Andi Agtas-Salim Segaf Aljufri. Sebab pasangan ini diprediksi akan membuyarkan asumsi serta spekulasi politik yang saat ini sedang berkembang.

Milintasi serta komitmen politik yang selama ini terbangun antara PKS dan Gerindra di pusat akan menjadi kekuatan bagi pasangan ini dalam merebut tahta kepemimpinan di daerah. Belum lagi, jika politik identitas serta strategi dalam pemenangan Gubenur DKI Jakarta Anies-Sandi yang akan juga dimainkan.

Harus diakui, Supratman Andi Agtas sendiri memiliki investasi elektoral yang mumpuni. Terbukti, ia juga terpilih kembali sebagai anggota DPR-RI dari Dapil Sulteng. Sementara Salim Segaf Aljufri dipastikan akan mendapat dukungan dari gerbong abnaul khairaat.

Endingnya semua akan berpulang kepada pemilik hak konstitusi. Karena bagaimana pun, masyarakat yang akan memilih siapa sosok pemimpin yang bisa mewujudkan mimpi besar kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Sulteng. [***]

 

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News