Menciptakan Pesaing

Bagikan Artikel Ini

Oleh: Joko Intarto
“Kenapa Pak JTO mau berbagi ilmu bisnis jasa video conference?” tanya karyawan Iframe Jogja, dalam sharing session di kantornya yang baru dan keren, semalam.

Pertanyaan senada sering saya terima. Terutama dari teman-teman Facebook.

Baca Juga

Saya memang gemar menulis apa saja di media sosial paling kondang sejagat raya itu. Termasuk menulis gagasan-gagasan baru dalam bisnis video conference.

Tulisan-tulisan saya di Facebook ternyata diperhatikan banyak orang. Sebagian menjadi inspirasi bagi mereka dan dijalankan sebagai strategi dalam bisnisnya.

“Tidak takut menambah pesaing?” lanjut karyawan yang tampak masih muda itu.

Itu pertanyaan menarik. Banyak orang menganggap persaingan sebagai hal yang menakutkan.

Menciptakan persaingan ibarat memelihara anak macan. Ketika masih kecil, anak macan tidak ada bedanya dengan kucing. Lucu. Nggemesin.

Ketika sudah besar, anak macan menjadi hewan buas yang bakal menerkam siapa saja. Apalagi kalau lapar. Macan tak ubahnya monster. Kalau tidak siap bisa memakan dirinya sendiri.

Agar bisnisnya aman, penganut paham antipersaingan memilih berbisnis sendirian. Pengetahuan dan kemampuan baru malah disimpan. Untuk diri sendiri.

Saya memang penganut paham persaingan itu baik. Persaingan akan menyehatkan industrinya. Yang paling menikmati keuntungan dari persaingan sebenarmua adalah konsumen.

Karena persaingan, konsumen bisa memilih banyak penyedia jasa. Bisa mendapatkan banyak pilihan paket. Bisa mendapatkan harga yang baik.

Ada harga ada rupa. Penyedia yang banyak akan menawarkan paket-paket yang makin beragam. Bisa berdasarkan harganya. Bisa berdasarkan jenis layanannya. Bisa berdasarkan durasinya. Maka konsumen memperoleh layanan sesuai dengan budgetnya.

Persaingan, menurut saya, juga mempercepat terbentuknya ekosistem. Semakin lengkap ekosistemnya, semakin mudah dalam menjalankan bisnis.

Kelak akan terjadi aliansi atau kolaborasi antarpelaku bisnis dalam ekosistem itu.

Kelak Jagaters Studio tidak perlu kirim crew dan alat ke Jogja untuk menyelenggarakan virtual event. Cukup menunjuk Iframe sebagai pelaksana. Dengan standar yang sama dengan Jagaters Studio.

Begitu pun sebaliknya.

Dua dekade yang lalu, Pak Dahlan mendirikan sebuah perusahaan koran harian di Jambi. Namanya Jambi Independen, satu-satunya koran di provinsi itu.

Hidup tanpa persaingan, Jambi Independen tentu saja sukses. Menikmati laba yang besar. Sendirian.

Manajemen Jambi Independen kemudian terlibat konflik dan akhirnya terbelah. Sebagian keluar dari perusahaan dan berniat mendirikan perusahaan koran baru sebagai persaingan.

Lucunya, mereka tetap minta Pak Dahlan masuk dalam manajemen koran baru itu. Lebih lucu lagi, Pak Dahlan setuju.

Persaingan pun dimulai. Jambi Independen melawan Jambi Ekspres. Dua-duanya bermain di segmentasi pasar yang sama. Dua-duanya punya semangat yang sama: Harus menang. Bagaimana pun caranya.

Ada yang menang berarti ada yang kalah. Siapa yang kalah pertarungan bisnis koran di jambi? Jambi Independen dan Jambi Ekspres ternyata sama-sama menang.

Dua-duanya tumbuh menjadi perusahaan media yang maju. Masing-masing Punya gedung megah. Masing-masing punya percetakan. Masing-masing punya perusahaan media televisi lokal.

Persaingan sangat keras dua perusahaan bersaudara kandung itu begitu berkesan bagi saya. Maka saya berkesimpulan, persaingan harus ada. Kalau perlu diciptakan. ***

Pos terkait

Google News