MIMPI COKELATMU

Joko Intarto
Bagikan Artikel Ini
  • 39
    Shares

Oleh: Joko Intarto
Niat baik akan selalu menemuka jalannya sendiri. Begitu nasihat ustadz saya. Ternyata benar.

Dalam kunjungan kerja ke Palu, saya berdiskusi cukup intens dengan Pak Burhan, Dekan FE Unismuh Palu dan Pak Nasrul, dosen FE Unismuh Palu. Keduanya pengurus Lazismu Sulawesi Tengah. Tema diskusinya adalah mengembangkan oleh-oleh khas Palu berbasis potensi lokal.

Baca Juga

Ada beberapa potensi lokal yang bisa dikembangkan menjadi oleh-oleh khas Palu: bawang merah dan kakao. Bawang merah sudah menjadi produk khas: bawang goreng yang sangat kondang. Sudah banyak pengusaha yang mengelola bisnis ini.

Muhammadiyah melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) juga membina kelompok petani bawang merah organik di Biromaru, Kabupaten Sigi. Produk bawang gorengnya sangat laris. Mereknya: Cap Luku. Artinya alat bajak sawah.

Selain memberi pembinaan budidaya di lahan pertanian organik, Muhammadiyah juga mengajak kelompok tani tersebut untuk memopori zakat pertanian. Pada panen sepekan lalu, kelompok tani Luku menunaikan zakat sebesar Rp 1,9 juta melalui Lazismu Sulteng.

Untuk penjualan bawang goreng, kelompok usaha Luku juga membayar infak. Sebanyak 2,5 persen hasil penjualan bawang gorengnya disalurkan sebagai infak melalui Lazismu.

Sayangnya saya tidak berhasil mendapatkan produk bawang goreng Luku untuk oleh-oleh. Rupanya produknya habis. Stok bawang merah hasil panen yang tersimpan di gudang hanya untuk bibit.

“Produksi bawang goreng organik kami masih kecil. Kami masih harus mengembangkan dengan menyiapkan bibit,” kata petani Luku via telepon.

Lain bawang goreng lain pula kakao. Sekedar informasi, kakao adalah bahan baku cokelat. Untuk menghasilkan cokelat yang biasa Anda makan atau minum, kakao harus diproses lebih dulu dengan mesin pengolah.

Loading…

Mesin itu harganya mahal. Paling murah berbilang ratusan juta untuk skala industri. Karena mahalnya, tidak banyak warga Palu yang terjun ke bisnis oleh-oleh berbahan kakao. Apalagi industri kelas UMKM yang modalnya kecil.

Padahal kakao merupakan produk perkebunan rakyat di Sulawesi Tengah. Provinsi ini tercatat sebagai penghasil kakao terbesar di Indonesia.

Diskusi pemberdayaan ekonomi bertema coklat akhirnya mandek. Tidak mungkin membuat program pemberdayaan dengan modal begitu mahal.

Kebuntuan itu akhirnya menemukan jalan setibanya di Bandara SIS Al-Jufri Mutiara. Di bandara ini saya ketemu Pak Asaruddin yang bertugas di konter Cokelat Sulteng.

Rupanya konter tersebut dikelola Pemda. Tujuannya sebagai ruang pamer produk unggulan yang diusahakan masyarakat. Konter Coklat dipilih karena masih kecilnya jumlah warga yang berbisnis di bidang ini.

Dari Pak Asaruddinlah saya mendapat jalan untuk memulai program pemberdayaan. Saya hanya perlu membuat kelompok usaha dan membuat konsep pemberdayaan saja.

Bahan baku coklat setengah jadi bisa dibeli dari pabrik pengolahan kakao atas referensi Pemda. Dengan bahan itulah, kelompok usaha mengolah menjadi produk konsumsi.

Alhamdulillah…

Walau belum tentu terwujud dalam waktu dekat, minimal sudah menemukan jalannya.[***]

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA