Mubazir, Proyek Air Bersih Rp6 Miliar di Banggai Jadi Sarang Biawak

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini

Luwuk, Jurnalsulawesi.com – Pembangunan proyek air bersih senilai Rp6 miliar di Kecamatan Masama, Kabupaten Banggai dinilai mubazir. Pasalnya, proyek yang dibiayai APBN dan APBD Kabupaten Banggai Tahun 2014 tersebut, hingga kini tidak bisa dimanfaatkan masyarakat setempat.

“Rugi-rugi saja habiskan uang rakyat untuk hasil begitu. Pipa-pipa itu sudah banyak yang putus di puncak (gunung). Bagaimana airnya bisa sampai di sini,” kata Edianto, Edianto, warga Desa Simpangan, Kecamatan Masama, Sabtu (21/7/2018).

Baca Juga

Ia juga mengaku dirinya sempat dirugikan akibat dari putusnya pipa air bersih itu pada bulan April 2018. Sawah seluas 80 are miliknya terendam air dan susah dikeringkan. Alhasil, tanaman padinya rusak dan hanya menghasilkan 2 sak gabah.

Sementara itu, Ruslan Ukas, Kepala Desa Simpangan, Kecamatan Masama juga mengemukakan kekecewaannya. Pipa-pipa utama kebanyakan putus. Bak penampungan air tak terawat dan kosong. Bahkan dalam bak hanya ditemukan seekor biawak.

“Sampai saat ini proyek air bersih itu belum dinikmati masyarakat Kecamatan Masama. Jangankan warga desa lain, kami saja yang menjadi pusat pengambilan air bersih belum merasakan manfaat dari proyek itu,” ujar Ruslan Ukas ketika ditemui sejumlah awak media, Sabtu (21/7/2018).

Menurut dia, pada saat pembangunan proyek air bersih itu, ia belum menjabat kepala desa. Namun, Ia sempat melihat data anggaran yang dikucurkan untuk proyek ini sekira Rp6 miliar. Sebanyak Rp4 miliar untuk pembangunan dari mata air hingga ke Desa Simpangan, kemudian Rp2 miliar untuk pembangunan pipanisasi dari Desa Simpangan menuju ibu kota Kecamatan Masama di Desa Tangeban, dengan jarak sekira 7 kilometer.

Pada tahun 2015 kembali dianggarkan oleh Pemerintah Kabupaten Banggai melalui APBD untuk kelanjutan proyek tersebut. Di tahun 2016 dan 2017 juga dianggarkan untuk penyambungan jaringan dan meteran dari pipa utama ke rumah-rumah warga, namun ia tidak mengetahuio berapa besar anggarannya.

“Yang kami sesalkan juga pemerintah daerah sudah tahu kalau pipa induknya ini bermasalah tapi kemudian program penyambungan di desa lain terus jalan. Padahal pipa induk rusak. Jadi bagaimana air bisa mengalir,” imbuhnya.

Ruslan mengungkapkan sekira bulan Mei 2018, pihak kepolisian dari Polsek Lamala yang dipimpin kapolsek sudah turun meninjau lokasi proyek tak beres itu. Tak berapa lama, anggota dari Satuan Reserse Kriminal Polres Banggai juga terjun ke lokasi.

Kemudian ada peninjuan juga dari pihak PDAM Luwuk ranting Masama. Hanya saja, hingga saat ini belum ada kejelasan terkait proyek air bersih itu apakah akan diperbaiki atau diusut oleh aparat penegak hukum.

“Kepada pihak kepolisian yang datang waktu itu, saya sudah sampaikan agar diusut saja. Mereka memperlihatkan surat perintah penyelidikan, tapi yang dilidik pekerjaan tahun 2016. Saya sempat tanya kenapa yang 2016, karena persoalan utamanya itu ada pada pembangunan awal,” paparnya.

Terkait masalah ini, Ruslan mengaku sudah pernah berkonsultasi ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Itu dilakukannya melalui seorang legislator, Sarifuddin Mahasuni, jauh sebelum proyek tersebut diserahkan ke pemerintah daerah Kabupaten Banggai.

Jaringan pipa yang terletak di atas gunung juga mengalami pecah hingga airnya meluber di persawahan dan menyebabkan warga gagal panen. [Antara]
Sayangnya, jawaban dari pihak provinsi bahwa persoalan itu bukan lagi tanggung jawab mereka. Sebab, sudah diserahterimakan ke pemerintah Kabupaten Banggai. Padahal, kerusakan itu sudah terjadi sejak awal dan saat diserahterimakan kondisinya memang sudah rusak dan belum diperbaiki.

“Itu juga yang kemudian kami sesalkan. Mengapa tidak diperbaiki dulu baru diserah terimakan ke pemerintah kabupaten (Banggai),” imbuhnya.

Masyarakat setempat menduga pembangunan awal proyek air bersih itu sudah tak beres. Sebab, pada bagian mata air sebagai tempat pengambilan air yang akan dialirkan ke bak penampungan terkesan asal kerja.

Informasi lainnya menyebutkan proyek air bersih Masama ini pernah ditangani Kejaksaan Negeri Luwuk pada 2016, namun tampaknya proses hukum tidak berlanjut. [***]

 

Sumber; Antara
Editor; Sutrisno

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News