Museum Sulteng Gelar Pameran Sejarah Alam dan Kebencanaan

Gubernur Sulteng Longki Djanggola mendapat penjelasan tentang peta potensi bencana alam pada Pameran Khusus Sejarah Alam dan Kebencanaan, Museum Palu, Kamis (3/10/2019). [Humas]
Bagikan Artikel Ini

Palu, JurnalNews.id – UPT Taman Budaya dan Museum Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar Pameran Khusus Sejarah Alam dan Kebencanaan. Pameran yang mengangkat tema “Mitigasi Bencana Alam Berbasis Kearifan Lokal” itu akan berlangsung, mulai 03-08 Oktober 2019.

Gubernur Sulteng Drs. H. Longki Djanggola, M.Si dalam sambutannya mengatakan, dengan adanya pameran sejarah alam ini, masyarakat bisa mempelajari sejarah bencana alam yang pernah terjadi di daerah ini, khususnya di wilayah Sesar Palu Koro.

Baca Juga

Menurut gubernur, bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada 28 September 2018, bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat, khususnya untuk mengetahui teori-teori mitigasi bencana.

“Kesimpulannya, jika terjadi gempa kita tidak hanya lari ke tempat terbuka begitu saja, tetapi juga harus waspada dengan memperhatikan situasi di sekeliling kita, apakah tempat kita menyelematkan diri dari gempa itu berpotensi likuifaksi atau tidak,” jelas Longki, saat membuka pameran.

Untuk itu lanjut gubernur, pemahaman tentang kebencanaan sangat penting disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga jika terjadi bencana di kemudian hari masyarakat sudah memahami apa yang harus dilakukannya.

“Pemahaman ini sangat penting diketahui sebagai salah satu cara untuk menyelematkan diri saat terjadi bencana,” katanya.

Loading…

Longki juga menghimbau agar masyarakat mempelajari dan memahami hal-hal terkait kebencanaan dan mitigasi bencana.

“Ini sangat penting dipahami sehingga bisa meminimalisir jatuhnya korban akibat bencana alam,” harapnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng yang diwakili Kabid pembinaan SMA dan SMK, Muhlis mengatakan, pamrean tersebut dilaksanakan untuk memberikan informasi kepada publik, tentang arti penting memahami sejarah alam catatan kebencanaan dan sejarah kebudayaan di Sulteng.

“Melalui pameran ini, kami berharap bisa menjadi referensi untuk mengambil langkah-langkah mitigasi bencana yang berbasis teknologi global dan pengetahuan lokal,” katanya.

Ia mengatakan, pada pameran Khusus ini juga menampilkan sejumlah foto-foto dampak kerusakan pascabencana 28 September 2018, yang melanda Kota Palu, Donggala, Sigi dan parigi Moutong (Padagimo).

Foto-foto yang ditampilkan merupakan hasil dokumentasi kondisi pada tanggal 29 September 2018 atau sehari setelah peristiwa tersebut di wilayah terdampak bencana.

“Selain itu masyarakat juga bisa mengetahui proses terjadinya gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang kami tampilkan secara visual,” jelasnya.

Pembukaan Pameran Khusus juga dihadiri Anggota DPRD Sulteng Alimudin Paada, Kepala Museum Basoeki Abdullah, Maeva Salmah dan sejumlah Kepala OPD terkait. [***]

Sumber; Humas Provinsi Sulteng
Editor; Sutrisno

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA