Naikkan Tarif Gudang, DPRD Sulteng Sesalkan Sikap Bandara Mutiara

  • Whatsapp
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Kenaikkan tarif jasa gudang yang dilakukan secara sepihak oleh Bandara Mutiara Sis Aljufrie Palu menuai sorotan. Kenaikkan tarif jasa gudang sebesar Rp700/kg itu terhitung sejak diberlakukan sejak April 2017 lalu.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng, Muh. Masykur dalam rilisnya kepada Jurnalsulawesi.com, Sabtu (26/8/3017), menyayangkan sikap pihak Bandara Mutiara SIS Aljufrie Palu yang lamban menyikapi situasi yang terjadi di Bandara.

Baca Juga

Kenaikan tarif jasa gudang secara sepihak ini dinilai oleh para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Penga Taran dan Pengangkutan Expedisi Indonesia (Asperindo) tidak adil dan memberatkan.

Selain memberatkan, pihak Asperindo menilai tidak dilakukan melalui musyawarah bersama. Hanya dilakukan oleh PT. Surya Timur Sarana Abadi (STSA), Expedisi Muatan Pesawat Udara (Empu) dan pihak Bandara.

Sementara pihak Asperindo sebagai salah satu pihak terkait salam proses keluar masuk barang sama sekali tidak dilibatkan.

“Kita sangat menyayangkan praktek seperti itu terjadi di Bandara Mutiara. Sangat tidak profesional dan cenderung mengejar untung sepihak. Praktek seperti ini jelas merugikan pihak Asperindo, sebagai salah satu pihak yang berkontribusi penting dalam siklus keluar masuk barang di Palu dan sekitarnya”, jelas Masykur.

Lebih lanjut Masykur menyangkan sikap pihak Bandara dan Dinas Perhubungan Sulteng yang tidak responsif terhadap permasalahan ini. Beberapa waktu lalu informasi ini sudah dikomunikasi untuk secepatnya dibuat forum mediasi guna mendudukan para pihak tersebut dalam forum musyawarah.

“Namun, hingga hari ini tidak nampak upaya konkrit. Padahal, masalah ini tidak sulit jika ada etikad baik untuk dibicarakan bersama, agar ada solusi,” sesal Masykur.

Menurut Masykur, sangat tidak baik dipandang jika pada akhirnya terjadi penumpukan barang sampai bergunung-gunung di Bandara. Apalagi barang yang masuk itu macam-macam jenisnya, seperti makanan, obat-obatan, pakaian, dokumen dan aneka jenis barang lainnya. Ini bisa mengganggu aktifitas ekonomi di Palu dan sekitarnya.

Terkait dengan itu, Masykur mendesak pihak Dinas Perhubungan dan Bandara Mutiara Sis Aljufri khususnya untuk segera menyelesaikan persoalan ini.

Seperti diketahui, sebelum masuknya PT. STSA di Bandara Mutiara Sis Aljufri tarif jasa gudang dikenakan kepada pihak expedisi Rp200/kg. Namun, tarif tersebut melambung tinggi per April 2017 sebesar Rp700/kg. [***]

Rep; Sutrisno/*

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News