Pembangunan D.I Wosu Diduga Tak Sesuai RAB, Begini Kondisinya

  • Whatsapp
Bendungan D.I Wosu di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulteng yang dibangun tahun 2019 senilai Rp19 miliar. | Foto: Istimewa
Bagikan Artikel Ini

JurnalNews – Pembangunan bendungan D.I Wosu di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) tahun 2019 senilai Rp19 miliar, diduga tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Dugaan itu muncul setelah diketahui adanya item-item yang tak sewajarnya dibuat untuk sebuah bendungan sebagaimana umumnya, di lokasi proyek yang dibiayai melalui DAK APBN Tahun 2019 dan melekat di Satker Dinas Ciptakan Karya dan Sumber Daya Air Provinsi Sulteng.

Baca Juga

Salah satunya, proyek yang dikerjakan PT. Datu Karsa Trimulti dengan nilai kontrak Rp19.200.317.000,00 itu, pagar pengaman yang semestinya menggunakan pipa besi sebagaimana umumnya, hanya menggunakan pipa paralon PVC yang ditutup dengan cat.

“Sekilas memang terlihat seperti besi karena ditutup cat, tapi sekarang setelah catnya terkelupas jadi ketahuan hanya menggunakan pipa paralon,” ujar Yoga warga setempat saat mengantarkan media ini ke lokasi pekan lalu.

Pagar pengaman hanya menggunakan pipa paralon PVC.

Material cutting-an juga digunakan untuk pembuatan oprit bangunan bendungan, yang diduga tidak sesuai dengan sesuai Rencana Kerja dan Syarat-syarat sebagaimana yang tertuang dalam RAB.

Terdapat keretakan yang hanya ditambal menggunakan plesteran semen sementara. Tambalan itu diduga dilakukan rekanan saat masa pemeliharaan.

 

Retakan-retakan memanjang juga terdapat di bagian utama bendungan Wosu. Diduga hal ini karena tidak dilakukannya pemeliharaan oleh penyedia jasa sebelum FHO.

“Ada juga yang hanya menggunakan material dari lokasi. Kemungkinan ini dilakukan demi keuntungan yang besar pihak penyedia jasa, dengan cara mencampur bahan material batu split dengan material batu bulat di Bangunan bendungan Wosu,” kata Yoga.

Hasil temuan di lokasi juga banyak timbunan di bagian Oprit bangunan bendungan yang amblas. Hal itu diduga karena tidak adanya bronjong atau tembok penahan oprit sekaligus berfungsi sebagai pengarah air.

“Masa proyek sebesar itu tidak direncanakan dari awal dengan buatkan bronjong,” sebut Yoga penuh tanda tanya.

Selain itu, hingga saat ini masih ada besi tulangan tiang pengaman bendungan yang diduga belum selesai dikerjakan oleh rekanan. Besi tersebut masih terlihat belum ditutup, bahkan tiangnya pun belum dibuat.

Menanggapi hal itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Christian Antolis yang ditemui di ruang kerjanya mengatakan, bendungan ini merupakan struktur berbeda yakni struktur bendungan berkepala rendah (lowhead dam).

“Pekerjaan D.I Irigasi Wosu di Kabupaten Morowali berakhir pada 18 Desember 2019 dan dilakukan serah terima pekerjaan sampai Final Hand Over (FHO) pada 18 Juni 2020,” jelas Christian saat dikonfirmasi pekan lalu.

Terkait dengan adanya item-item tersebut Christian menjelaskan, pemasangan pipa PVC sesuai dengan kontrak. “Dalam kontrak, pekerjaan tersebut masuk item pekerjaan Drain Hole yang berbahan pipa PVC O2,” jelasnya.

“Dalam pekerjaan material timbunan yang diduga menggunakan hasil cuttingan untuk oprit, menurut Christian, dalam pelaksananaannya timbunan yang dipersyaratkan pada bangunan tersebut adalah tanah kembali yang berasal dari hasil galian tanah di lokasi setempat.

“Kemudian adanya keretakan, itu hanya retakan permukaan sehingga dilakukan pemeliharaan dengan cara menutupi bagian tersebut dengan spesi bahan yang sama, sehingga bisa menutupi pori-pori dengan rapat dan yang nampak hanya permukaan saja,” jelasnya. ***

Berita Terkait

Google News