Pemprov Sulteng Ingatkan Potensi Megathrust dan Tsunami di Masa Depan

  • Whatsapp
Situasi di depan Matahari Departement Store, Palu Grand Mall usai gempa dan tsunami yang menerjang Kota Palu, pada 28 September 2018. [Heru]

Palu, JurnalNews.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mengingatkan masyarakat di Kota Palu dan kabupaten/kota di daerah ini agar tetap waspada terhadap ancaman gempa megathrust dan tsunami di masa depan. Hal ini mengacu dari kajian sejumlah ahli dari Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Ancaman gempa yang mengakibatkan tsunami dimaksud bukan hanya karena pergerakan Sesar Palu-Koro saja, tetapi ada sesar lainnya.

Baca Juga

Pada 2018, pergerakan Sesar Palu-Koro menghasilkan gempa bermagnitudo 7,4 lalu mengakibatkan tsunami dan likuifaksi yang kemudian meluluhlantakkan Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong.

“Ada kemungkinan juga dari Sesar Makassar Strait yang berada di bawah laut atau gempa megathrust di Utara Sulawesi,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Pemprov Sulteng, Haris Kariming di Palu, yang dikutip dari ANTARA, Senin (9/9/2019).

Pernyataan Haris itu mengacu pada surat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) nomor 10716/Dt.6.1/08/2019 perihal Penyampaian Rekomendasi Ahli Nasional tentang Perlindungan Pesisir Palu Terhadap Ancaman Tsunami, Gempa bumi dan Likuifaksi yang ditandatangani Direktur Pengairan dan Irigasi selaku Ketua Kelompok Kerja II Bidang Pemulihan Infrastruktur Wilayah Bappenas, Abdul Malik Sadat Idris.

Namun, ia mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir apalagi takut dengan ancaman gempa disusul tsunami tersebut, sebab diprediksi tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

“Para ahli menyatakan bahwa potensi kejadian gempa besar dalam jangka puluhan tahun mendatang bersumber dari segmen lain, bukan dari segmen gempa yang sudah melepaskan akumulasi tegangan tektoniknya,”ujarnya.

Olehnya, lanjutnya, upaya mengurangi resiko terhadap ancaman atau mitigasi bencana deformasi sesar di permukaan dan seismic hazard sangat diperlukan mengingat proses bencana alam merupakan proses yang sangat dinamis dan upaya mitigasi menjadi penuh ketidakpastian.

“Ketidakpastian ini dapat diperkecil melalui riset untuk memahami kejadian sebelumnya dan juga mengantisipasi kejadian di masa depan. Kejadian gempa 2018 telah mengubah peta sesar aktif 2017 sehingga diperlukan revisi peta seismic hazard,”terangnya.

Selanjutnya, sambung Haris, diperlukan penelitian geologi gempa bumi secara mendalam untuk mengetahui aktivitas sesar-sesar aktif. [***]

Pos terkait