Penanganan Longsor Kebun Kopi Diduga Menyalahi Mekanisme

  • Whatsapp
Sejumlah pengguna jalan Kebun Kopi mengantri karena adanya alat berat yang tengah bekerja, Selasa (13/1/2015). Tidak adanya pengumunan Buka-Tutup jalan mengakibatkan panjangnya antrian hingga delapan jam. [Foto: Yusrin/JS] 
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulteng.com Meski saat ini jalur Kebun Kopi sudah dapat dilalui setelah mengalami longsor yang menutup jalan hampir 36 jam, sejak Minggu-Senin (11-12/1/2015), namun  hingga kini masih menimbulkan keresahan bagi penguna jalan.

Keresahan yang timbul karena tidak adanya kepastian kapan berakhirnya penutupan jalan yang dilakukan penanggungjawab penanganan bencana longsor, yakni PJN Wilayah II Sulteng. Selain itu, penanganan bencana longsor itu juga diduga menyalahi mekanisme kerja, yang mengakibatkan panjangnya antrian kendaraan arah Toboli-Palu dan Tawaeli-Parigi yang berpotensi memicu konflik antar pengguna jalan.

Baca Juga

Pantauan JurnalSulteng di lokasi pada Senin (12/1/2015) sore hingga Selasa (13/1/2015) siang, akibat proses kerja yang tidak sesuai mekanisme mengakibatkan antrian tidak beraturan karena tidak adanya papan pemberitahuan buka-tutup jalan. Hanya ada pengumuman pengalihan jalan Kasimbar-Tambu yang penuh resiko.

Salah seorang pengguna jalan H. Yusuf Borahima, menilai menilai proses penanganan bencana alam Kebun Kopi kali ini sangat keliru.

Selain telah menyengsarakan pengguna jalan karena tidak adanya kepastian jam buka-tutup karena adanya alat berat yang bekerja, proses pengerjaannya bukan mementingkan cepatnya akses penggunaan jalan oleh publik. Tetapi   penanganan bencana kali ini terkesan mengejar profit, kata pengusaha asal Kabupaten Parigi Moutong ini.

“Dari cara kerja alat berat yang dijalankan operator bukan untuk kepentingan publik, tapi mengejar profit (keuntungan),” ujar Yusuf kepada JurnalSulteng di lokasi lonsor, saat menunggu antrian.

Dikatakannya, jika kerja untuk kepentingan publik, pekerja hanya akan membersihkan material yang jatuh di badan jalan. Bukan meng-cuting material yang diatas gunung, yang mengakibatkan makin banyaknya material longsoran yang menimbun badan jalan.

“Harusnya bersihkan dulu material longsoran yang menimbun badan jalan, sehingga pengguna jalan bisa melintas. Mereka bekerja murni cari keuntungan dengan berlama-lama mengorek material,” tegasnya, seraya mengaku sudah lebih 25 tahun menangani pekerjaan akibat bencana alam.

Tidak masalah kata dia, kalau harus bekerja dengan cara meng-cuting gunung, tapi dibuatkan jadwal buka tutup. Biar pengguna jalan mengetahui jam lewatnya di lokasi tersebut. “Ini tidak ada pemberitahuan buka tutup. Hanya pengalihan, tapi tetap dibuka sehingga antrian hingga delapan jam di titik longsor sepanjang dua-tiga kilometer dan telah berlangsung selama tiga hari yang tidak menentu,” kesalnya.

Di lokasi longsor terlihat dua alat berat Excavator dan Loader. Namun pada hari kedua, terlihat salah satu alat hanya menganggur tidak bekerja.

Pemilik alat berat Rudi Candra, mengaku tidak tahu menahu soal buka-tutup jalan. Rudi mengarahkan untuk menanyakan pada PPK  Irene atau Kepala Satker PJN Wilayah II.  Rudi juga mengatakan, semestinya pekerjaan semacam itu harus ada jadwal buka-tutup jalan, sehingga pengguna jalan mengetahui jadwal buka-tutup jalan.

Kepala Satker PJN wilayah II, Sulteng, Saut P. Munthe, ST. MM. MT, yang dihubungi Jurnalsulteng.com mengklaim proses penanganan bencana longsor Kebun Kopi sudah sesuai prosedur. Saut Munthe mengatakan, pihaknya sudah mengumumkan melalui RRI, media cetak,  bahkan beberapa televisi seperti Metro TV, RCTI dan TV lokal.

Dengan suara keras dan nada emosi saat dikonfirmasi via telpon, Saut Munthe mengakui tidak memberlakukan buka-tutup jalan.

“Saya dilokasi siang malam bersama Kapolres Parigi Moutong, pihak Dishub dan TNI. Karena kondisi dilokasi bencana material masih berjatuhan, maka demi keamanan pengguna jalan dan atas jaminan kepolisian, maka diputuskan jalan ditutup. Dan kita tidak bisa melarang warga yang mau menunggu dan menginap berjam-jam di gunung dekat lokasi longsor,” jelasnya sembari mengatakan, kalau ada yang bicara proses penanganan bencana kebun kopi keliru, karena dia tidak tahu menahu penanganan bencana alam. [Yus]

 

 

Iklan
loading...

Berita Terkait

Google News