Pengalaman Divaksin

  • Whatsapp
Joko Intarto . | Foto: Istimewa
Bagikan Artikel Ini
  • 5
    Dibagikan

Oleh: Joko Intarto
Akhirnya saya bisa menjalani proses vaksinasi Covid-19. Dilayani dokter dan paramedis Muhammadiyah, saya merasa sangat nyaman.

Hanya perlu 10 menit untuk menyelesaikan seluruh proses: Dari pendaftaran, screenimg, vaksinasi dan penerbitan sertifikat.

Lihat Juga:

“Tekanan darahnya kok agak rendah?” tanya petugas di meja screening.

“Biasanya memang rendah,” jawab saya.

“Jangan-jangan karena sering begadang?” komentarnya.

“Lho, kok ibu tahu kalau saya begadang? Jangan-jangan baca status Facebook saya?” jawab saya.

Paramedis itu tertawa kecil.

“Kalau tekanan darahnya terlalu rendah, atau terlalu tinggi dari normal, tidak boleh ikut vaksinasi. Harus menunggu benar-benar normal. Tekanan darah Bapak ini masih oke,” jelasnya.

“Faktor menu makanan juga bisa mempengaruhi tekanan darah kan Bu?” tanya saya.

“Bisa. Makanan berbahan daging cenderung meningkatkan tekanan darah. Kalau makanan berbahan nabati umumnya tidak,” jelas petugas itu.

“Tapi tempe dan tahu terbukti bisa bikin darah tinggi,” kata saya.

“Oh ya?” tanya petugas tersebut.

“Ada banyak hasil risetnya. Dua orang diuji tekanan darahnya selama seminggu. Orang pertama dikasih makan dengan lauk tempe dan tahu terus. Yang satu lagi dikasih menu sop kaki kambing, sate ayam, gulai sapi. Pada hari keempat, yang makan tempe dan tahu ternyata tekanan darahnya naik drastis,” jawab saya.

Paramedis itu rupanya paham. Saya sedang membanyol.

Selesai pengecekan tekanan darah, paramedis itu menanyai saya beberapa pertanyaan. Setiap jawaban ditulis di formulir kuisionair. Pertanyaannya seputar usia, riwayat penyakit dan riwayat Covid-19 di lingkungan kerja maupun rumah.

Hasil screening: Lolos! Saya boleh mengikuti vaksinasi.

“Ini bekas suntik vaksinasi cacarnya kok besar banget? Pasti dulu dikejar-kejar untuk vaksinasi,” kata dr Diana.

Saya tertawa. Memang saat vaksinasi cacar dulu, prosesnya harus kejar-kejaran. Beberapa guru mengejar saya yang berusaha kabur dari daftar antrian.

“Kalau setelah vaksinasi merasa ngantuk, harap tidur. Kalau pusing, mual atau demam, minum obatnya,” ujar dokter.

Sebelum pulang, panitia masih memberi bingkisan multivitamin, hand sanityzer dan makan siang.

Alhamdulillah. Terima kasih Muhammadiyah yang telah memberi layanan sangat baik. Benar-benar berkemajuan. ***

Berita Terkait

Google News