Pengidap Penyakit Paru-paru karena Menghisap Vape Terus Bertambah

Ilustrasi vape. [Istockphoto/yehor].
Bagikan Artikel Ini
  • 39
    Shares

JurnalNews.id – Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat penyakit paru-paru yang berhubungan dengan vape atau rokok elektrik terus bertambah menjadi 1.604 kasus. Di antaranya, 35 orang meninggal dunia.

Jumlah ini meningkat dari 1.479 kasus yang dilaporkan pada pekan lalu. Jumlah ini diperkirakan terus bertambah, mengingat penggunaan vape tengah menjadi tren.

Baca Juga

Penyakit paru-paru terkait vape ini ditemukan hampir di seluruh negara bagian AS. Hanya negara bagian Alaska yang tidak memiliki kasus tersebut. Karenanya, AS menetapkan penyakit paru-paru yang berkaitan dengan vape ini sebagai epidemi.

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari penyakit yang menyerang paru-paru. CDC hanya menyebut sebagai penyakit paru-paru terkait vape atau Vaping Associated Pulmunory Injury (VAPI/EVALI) lantaran satu-satunya pasiennya menggunakan rokok elektrik.

Penyakit ini merusak paru-paru dan menimbulkan gejala meliputi sesak napas, muntah, hingga hilang kesadaran.

Orang yang mengalami penyakit paru-paru terkait vape menggunakan rokok elektrik setidaknya selama 90 hari terakhir.

Loading…

Mayoritas menggunakan produk yang menggunakan tetrahydrocannabinol atau THC, komponen psikoaktif utama pada ganja.

CDC dan sejumlah lembaga lainnya terus meneliti zat dan bahan kimia yang terkandung di dalam vape untuk mengetahui lebih lanjut penyebab pasti dari penyakit ini. CDC telah merekomendasikan untuk tidak menggunakan rokok elektrik untuk mencegah penyakit.

Sejumlah negara bagian di AS, seperti New York bahkan sudah melarang penjualan rokok elektrik dengan rasa mint dan mentol untuk mencegah penyakit paru-paru terkait vape.

Di Indonesia sendiri, belum ada pelaporan dan pencatatan penyakit paru-paru terkait vape.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto mengatakan belum ada tata laksana terkait penyakit akibat vape di seluruh dunia. Akibatnya, kebanyakan pasien didiagnosis dengan pneumonia atau radang paru biasa, tanpa diketahui penyebabnya.

“Mungkin saja kasus serupa banyak ditemukan oleh dokter-dokter lain, tapi hanya digolongkan sebagai penyakit paru saja,” kata Agus, beberapa waktu lalu. [***]

Sumber; CNNIndonesia

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA