Pengungsi Keracunan Nasi Bungkus, DPRD: Bukti Buruknya Penanganan Korban Bencana

Sejumlah anak-anak pengungsi korban tsunami di Kelurahan Kabonena dan Tipo harus menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Anutapura, akibat keracunan usia menyantap nasi bungkus tempat mereka mengungsi, Sabtu (19/1/2019). [Ist]
Bagikan Artikel Ini

Palu, Jurnalsulawesi.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tengah, melalui Pansus Pengawasan Penyelenggaraan Penanganan Bencana (P3B) menilai, adanya korban bencana alam gempa, tsunami dan likuifaksi yang keracunan, menandakan buruknya penanganan pemerintah terhadap pengungsi.

“Sebanyak 36 pengungsi, baik anak-anak maupun orang dewasa, keracunan makanan di Shelter Pengungsian Kapsul Kabonena dan Lapangan Mister Tipo, adalah fakta yg menunjukkan lemahnya koordinasi Pemerintah Daerah terkait penanggulangan bencana di Palu, Sigi dan Donggala,” kata Ketua Pansus P3B DPRD Sulteng Yahdi Basma, Minggu (20/1/2019).

Baca Juga

Puluhan pengungsi korban bencana di Kelurahan Kabonena dan Tipo, keracunan nasi bungkus pemberian sejumlah relawan yang tidak diketahui identitasnya, pada Sabtu(19/1) pagi.

Hingga Minggu (20/1/2019) siang, 17 orang pasien asal pengungsian Kelurahan Tipo dan Kelurahan Kabonena diduga keracunan makanan masih menjalani perawatan medis. Dari 17 pasien rawat nginap itu, sebagian besar adalah anak-anak.

Pasien dewasa dirawat di ruang perawatan Cemara, sedangkan pasien anak-anak dan ibu-ibu dirawat di ruangan Nuri, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anutapura, Kota Palu.

Yahdi mengatakan, berdasarkan pengakuan korban Muria, pengungsi asal Kelurahan Tipo mengatakan, sebelum ikut menyantap nasi bungkus tersebut, dia sedang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin oleh tim dokter.

Muria mendapat dua bungkus nasi dan makan bersama cucu. Setelah makan ia pergi mandi. Saat itulah ia merasa pusing, mual-mual dan muntah beberapa kali.

Begitu pula dengan cucunya bernama Viola. Setelah makan nasi bungkus juga muntah-muntah. Muria menyatakan, bungkusan terdiri dari nasi putih, ikan suir dan laksa.

Loading…

“Memang ada aroma bau basi dari makanan itu. Tetapi mereka tetap makan dua bungkus,” kata Yahdi.

Dia mengaku, telah berkomunikasi dengan pihak RSUD Anutapura.

“Menurut dr Herry Mulyadi yang barusan saya telpon, hari ini hasil Laboratorium atas bukti-bukti sisa makanan sudah bisa diterima untuk melihat jelas jenis keracunan bagaimana yang terkandung di makanan tersebut yakni nasi, lauk dan mie laksa,” ujar Yahdi.

Ia mengemukakan, dalam peraturan daerah Sulteng Nomor 3/2013 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Pasal 76 ayat 7, Pemda mendorong dengan memfasilitasi partisipasi masyarakat yang empati dalam menangani pengungsi atau korban.

“Kita akan minta segera, apakah Pemda punya daftar data, siapa dan lembaga2 mana saja yang perhatian memberi dukungan kebutuhan hidup bagi korban di shelter-shelter pengungsian selama ini. Dari mana lembaga/organisasi itu, bagaimana perkembangannya dan lain-lain. Jika data-pun tidak ada, ya memang miskoordinasi pastinya. Apalagi saya dengar bahwa mobil yang mengantar makanan tersebut bernopol merah,” ujarnya.

Karena itu, peristiwa ini harus diusut tuntas. “Kita juga berempati kepada relawan dan mengucapkan terimakasih, tetapi selanjutnya memberi bantuan sebaiknya bahan makanan mentah, misalnya beras, telur dan lain-lain yang memenuhi standar gizi dengan Balai POM juga harus bekerja setiap hari,” tandas Yahdi yang juga Anggota Komisi I Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Provinsi Sulteng.

Melalui Pansus Pengawasan Penyelenggaraan Penanganan Bencana (P3B), DPRD Sulteng juga akan menggelar rapat dengar pendapat (hearing) terkait pengungsi yang keracunan makanan tersebut.[***]

Sumber; Antara

loading...

Berita Terkait

REKOMENDASI UNTUK ANDA